Skip to main content
x
Nasional
Buyung Japri

Ditengah Badai dan Pandemi, Nelayan Bengkulu Terus Berjuang

Musim hujan dan badai menjadi kendala bagi nelayan Bengkulu untuk melaut. Sekitar dua bulan ini, cuaca tidak bersahabat. Kondisi kapal yang kecil ditambah usianya yang sudah tua, membuat Buyung Japri (63) harus rela mengurangi aktifitas melautnya. Penghasilan yang biasanya berkisar Rp 150 ribu-Rp 250 ribu sehari susah untuk dipenuhinya lagi.

Warga Jalan Bencoolen Pasar Baru Kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu ini, sehari-hari harus rela ditopang ekonominya oleh anak-anaknya. "Sebenarnya saya masih kuat melaut, namun jika kondisi cuaca bagus, sekitar 2 bulan ini musim hujan, kemungkinan terjadi badai yang berakibat gelombang besar, berbahaya jika dipaksa melaut," ucap Buyung Japri saat ditemui Bengkulutoday.com, Rabu (4/2/2021).

Biasanya, Buyung pergi melaut pukul 17.00 WIB sore. Dia berada ditengah laut malam hari dan kembali ke darat pagi harinya. Berbagai risiko harus siap dia hadapi saat melaut dalam cuaca buruk.

"Hujan badai dan angin kencang menjadi kendala, kadang air masuk ke kapal kami dan angin badai bisa saja membalikkan kapal kami yang berukuran kecil ini," ungkapnya.

Terkadang, Buyung dan nelayan kecil lainnya sepulang dari melaut tidak balik modal. "Sekali pergi melaut menghabiskan bahan bakar sekitar 5 liter lebih, kadang tidak sesuai dengan hasil tangkapan, tapi hanya cukup untuk memenuhi hidup sehari-hari," imbuhnya.

Penulis: Arjus