Langkah Humanis Rutan Bengkulu: Pembinaan Rohani Buddha untuk Perkuat Karakter dan Toleransi
Bengkulu – Sejumlah warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bengkulu mengikuti kegiatan pembinaan kerohanian agama Buddha yang digelar di aula rutan, Kamis (14/8). Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara pihak Rutan Bengkulu dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Bengkulu.
Kepala Rutan Bengkulu, Yulian Fernando, menyampaikan bahwa pembinaan kerohanian ini menjadi bagian penting dalam program pembinaan narapidana, khususnya untuk memenuhi hak warga binaan dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya. “Hak beribadah adalah hak asasi yang dijamin undang-undang. Walaupun sedang menjalani masa pidana, para warga binaan tetap berhak mendapatkan pembinaan dan bimbingan spiritual sesuai keyakinan mereka,” ujar Yulian.
Dalam kegiatan tersebut, para warga binaan yang beragama Buddha mendapatkan bimbingan langsung dari pembimbing rohani yang ditugaskan Kemenag. Materi yang diberikan mencakup pembacaan paritta, pemahaman ajaran Buddha, serta pembinaan etika dan moral berdasarkan dhamma. Selain itu, warga binaan juga diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman spiritual untuk memperkuat kesadaran diri serta menumbuhkan sikap saling menghormati antarumat beragama.
Lebih lanjut Yulian menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan keagamaan yang merata kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pidana. “Pembinaan ini bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga sarana pembentukan karakter. Kami ingin warga binaan memahami bahwa setiap orang berhak memulai lembaran baru, dan pembinaan spiritual dapat menjadi pondasi untuk itu,” jelasnya.
Kegiatan pembinaan ini juga menjadi wujud nyata pembinaan berbasis hak asasi manusia di lingkungan pemasyarakatan. Dengan memberikan ruang dan fasilitas ibadah, Rutan Bengkulu berupaya memastikan bahwa proses pembinaan tidak hanya menyentuh aspek hukum, tetapi juga menyentuh hati dan pikiran para warga binaan.
"Selain memberikan manfaat spiritual, pembinaan ini diharapkan dapat memperkuat rasa saling menghargai antarumat beragama di dalam rutan. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, warga binaan diajak untuk saling mendukung dalam proses perbaikan diri," pungkas Yulian.
