Membangun Harapan di Batu Kotam
Oleh : Letkol Arm Ady Kurniawan, M.Han ( Dansatgas Kodim 1017/Lmandau )

Kabut tipis masih menggantung di atas langit Desa Batu Kotam, seperti selendang putih yang enggan meninggalkan bahu hutan tropis Kalimantan. Embun menitik di ujung-ujung daun, seakan ragu melepaskan genggamannya. Aroma tanah basah menyusup lembut ke indera penciuman bau khas hutan setelah hujan semalam. Di kejauhan, hamparan hijau tak bertepi berdiri kokoh, menyimpan kisah yang tak pernah habis, termasuk cerita perlawanan warga Indonesia terhadap NICA di masa lampau. Di tanah inilah, sejarah dan perjuangan berpadu, membentuk ruh yang tak pernah padam.
Tongkat estafet komando Kodim 1017/Lamandau belum genap sebulan saya genggam. Namun, setiap langkah di tanah ini membuat merasa seakan sudah lama menjadi bagian dari denyut nadinya. Bukan karena pangkat, bukan karena jabatan tapi karena cinta pada negeri yang tak pernah meminta balas jasa, hanya menginginkan yang terbaik dari anak-anaknya.
Kami menembus jalan tanah yang sempit, diapit belukar lebat di kanan kiri. Bekas jalur air mengiris permukaan jalan seperti urat yang berkelindan, tak beraturan. Tanah masih menggumpal akibat hujan semalam; tidak becek, namun lembab dan licin. Dari kejauhan, terdengar deru mesin motor yang menderu tertahan. Seorang lelaki berusaha keluar dari kubangan lumpur, keranjang rotan penuh hasil kebun menggantung di kanan kiri motornya membuatnya semakin sulit bergerak.
Dalam hati saya bergumam, “Inilah alasan TMMD ke-125 harus hadir di sini”.
Semangat saya menghangat, mengalir seperti darah segar di pembuluh nadi. Desa Batu Kotam, dengan tanah latosol dan podsolik berlapis gambut, menyimpan tantangan tersendiri. Saat hujan tiba, air meluap ke pemukiman. Jalan-jalan berubah menjadi kolam lumpur di titik yang rendah, genangan itu bertahan lama, memutus akses warga untuk melintas.
Tanggal 23 Juni 2025 pembukaan TMMD Ke-125 tiba. Udara pagi dipenuhi aroma tanah basah, bercampur dengan semangat yang menggebu. Tak ada waktu untuk menunggu seluruh anggota Satgas segera bergerak. Deru mesin Excavator dan Dozer menggema di antara pepohonan, memecah kesunyian hutan. Tanah merah diangkat, diratakan, dan disusun ulang. Jalan yang sebelumnya sempit hanya empat meter kini mulai melebar, memberi ruang bagi harapan baru yang mengalir dari ujung ke ujung.

Pekerjaan itu membentang sepanjang 4,5 kilometer, laksana nadi baru yang akan menghubungkan Batu Kotam dengan Desa Kondang di Kabupaten Kotawaringin Barat. Jalur ini bukan sekadar menghemat waktu perjalanan dari 2,5 jam menjadi hanya 1,5 jam tetapi juga membuka gerbang ekonomi, memudahkan arus perdagangan, dan membawa warga lebih dekat pada fasilitas penting seperti bandara, pelabuhan, dan pasar besar. Setiap ayunan bucket dan tarikan dozer seperti menulis bab baru bagi masa depan desa.
Di sepanjang jalan yang baru diperlebar, alur drainase kanan-kiri mulai terbentuk, seperti dua parit penjaga setia yang siap menuntun air hujan menjauh dari badan jalan. Tidak lagi akan ada genangan yang mengubah tanah menjadi lumpur licin atau kubangan yang menahan langkah warga berhari-hari. Setiap galian yang rapi itu bukan sekadar parit, melainkan garis pertahanan pertama agar jalan tetap kokoh, aman, dan bisa dilalui sepanjang musim membawa rasa lega bagi siapa pun yang melintas, dari petani yang membawa hasil panen hingga anak-anak yang berangkat sekolah.
Jejak Kaki yang Lebih Kokoh, Pengecoran Jalan Dalam Desa

Di jantung desa, jalan sempit yang dulu bergelombang seperti alur akar besar di tengah hutan akhirnya disentuh perubahan. Warga dan prajurit bergotong royong, menuang adonan semen, pasir, dan kerikil ke dalam cetakan kayu yang membentang. Bau semen basah bercampur dengan aroma kopi dari dapur-dapur warga yang mengalir bersama tawa dan gurau.
Seorang anak perempuan berlari kecil melintasi ujung jalan yang sudah mengeras sebagian. Kakinya yang mungil meninggalkan bekas di permukaan cor yang masih lembut. Dari tepi jalan, terdengar suara ibunya berseru,
"Awas, nak! Tei ndau kenyah, nanti rusak jalannya!"
(Awas nak, itu belum kering, nanti rusak jalannya!)
Anak itu berhenti, menoleh, lalu tersenyum malu. Saya hanya tertawa kecil, merasa teguran itu bukan sekadar peringatan, tetapi juga bentuk kasih sayang warga pada hasil kerja bersama. Jalan ini memang milik mereka dan akan mereka jaga seperti menjaga halaman rumah sendiri.
Atap Baru, Harapan Baru Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)

Rumah itu berdiri miring, seperti menahan lelahnya usia. Dinding papan penuh lubang, sebagian sudah dimakan rayap. Di teras kecilnya, Bapak Uyang duduk di kursi kayu, memandangi halaman yang becek sisa hujan semalam. Tatapannya kosong, seakan sudah pasrah dengan nasib rumah yang setiap musim hujan berubah menjadi kolam kecil. Air selalu merembes masuk dari atap yang bocor, membasahi lantai tanah dan kasurnya yang tipis.
Pagi itu, kesunyian desa pecah oleh suara gergaji, palu, dan tawa gotong royong. Kayu baru dipasang, seng berkilau memantulkan cahaya matahari. Bau cat segar mengisi udara, menandai lahirnya wajah baru rumah itu.
Ketika semua selesai, Bapak Uyang berdiri di depan pintunya yang kini kokoh dan rapi. Tangannya yang kasar menyentuh kayu itu pelan, seolah tak percaya. “Dulu kalau hujan, saya duduk sampai pagi nunggu bocornya reda… sekarang, saya bisa tidur nyenyak,” ucapnya lirih, matanya berkaca-kaca.
Lima Titik Sumur Bor

Mesin bor meraung di tengah lapangan, suaranya bergema di antara pepohonan. Tanah merah terbelah, batu-batu keras di perut bumi dipecahkan perlahan. Butiran debu beterbangan, bercampur dengan aroma logam dan tanah basah yang terangkat dari kedalaman.
Tiba-tiba, dari lubang sempit itu, semburan air jernih memancar, berkilau memantulkan sinar matahari siang. Warga berkerumun di sekitarnya, memandangi air yang mengalir dengan rasa takjub. Perempuan-perempuan menadahkannya dengan ember, sementara anak-anak merendam tangan mereka, membiarkan kesejukan merayap hingga ke ujung jari.
Lima titik sumur bor kini berdiri tegak di lima dusun berbeda. Air yang mengalir dari kedalamannya membawa janji—janji bahwa setiap rumah akan memiliki sumber kehidupan yang tak lagi bergantung pada musim.
Menanam Masa Depan

Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas lahan kosong seluas satu hektar. Rumput liar yang selama ini merajai tanah itu mulai dibersihkan. Suara cangkul beradu dengan tanah terdengar berirama, diselingi denting parang yang memotong batang semak.
Prajurit dan warga bekerja bahu-membahu. Tangan-tangan yang biasanya menggenggam senjata kini mencengkeram gagang cangkul, menggemburkan tanah yang lembut setelah semalaman disiram embun. Benih padi, sayuran, dan palawija diletakkan dengan hati-hati, seolah setiap biji kecil itu adalah potongan masa depan yang sedang ditanam.
Matahari beranjak naik, sinarnya memantul di butir-butir keringat yang mengalir di pelipis. Tanah yang tadinya diam kini berisi janji-janji panen yang akan memberi makan banyak meja, mengisi periuk, dan menjaga dapur tetap berasap.
Menjaga Napas Hutan
Di tepi jalan yang baru diperlebar, lubang-lubang kecil sudah menunggu. Bibit pohon dengan batang ramping dan daun muda terikat rapi di dalam karung goni. Udara pagi membawa aroma tanah basah, berpadu dengan wangi dedaunan segar.
Satu per satu, bibit itu diletakkan ke dalam lubang. Tanah ditimbun kembali, diinjak perlahan agar akar-akar muda dapat berpeluk erat dengan bumi. Barisan pohon mulai terbentuk, memanjang mengikuti jalur jalan, seperti pasukan kecil yang siap menjaga desa dari panas terik dan erosi.
Di kejauhan, suara burung hutan terdengar, seakan menyambut keluarga baru yang akan tumbuh di sini. Lima ratus batang pohon muda kini berdiri, menjadi napas panjang bagi desa napas yang akan terus mengalir hingga puluhan tahun ke depan.
Menjalin Kekuatan, Gotong Royong dan Sinergi
Di Batu Kotam, setiap suara palu, setiap sekop tanah yang terangkat, dan setiap tetes keringat yang jatuh adalah hasil kerja bersama. Prajurit, pemerintah daerah, dan warga desa berdiri di jalur yang sama, menyatukan langkah. Tidak ada yang bekerja sendirian setiap tugas diselesaikan dengan tangan yang saling membantu, bahu yang saling menopang.
Seperti yang disampaikan Bupati Lamandau, Rizky Aditya Putra, S.E., M.M., saat membuka TMMD, kekuatan sejati pembangunan terletak pada kebersamaan. Kalimat itu bukan sekadar sambutan di mimbar ia terasa nyata di lapangan, di mana prajurit membantu warga memanggul kayu, kepala desa ikut menggali tanah, dan ibu-ibu memasak di dapur umum untuk mengisi tenaga semua yang bekerja.
Di desa ini, gotong royong bukan hanya tradisi, melainkan napas yang menghidupkan setiap pembangunan. Sinergi itu menjelma menjadi jalan yang terbentang, rumah yang berdiri tegak, sumur yang memancar, dan pengetahuan yang tumbuh di hati warga.
Harapan Tumbuh Bersama, Batu Kotam Melangkah Maju

TMMD Ke-125 di Desa Batu Kotam bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan harapan. Jalan yang terbentang, rumah yang berdiri kokoh, sumur yang memancar, serta pohon-pohon yang ditanam adalah bukti nyata bahwa kebersamaan mampu melahirkan perubahan besar.
Dalam suasana penuh kebanggaan, kegiatan ini ditutup dengan kehadiran Kasdam XII/Tanjungpura, Brigjen TNI Putra Widyawinaya, S.H., M.P.M. Kehadiran beliau menjadi simbol dukungan dan penguatan semangat bahwa TNI akan selalu hadir bersama rakyat, membangun dari pelosok desa hingga ke seluruh penjuru negeri.
Di Batu Kotam, harapan kini tumbuh, kokoh bersama gotong royong dan sinergi, untuk masa depan yang lebih baik.
