Skrining TBC, HIV, dan Hepatitis C Digelar di Rutan Bengkulu: Sasar Ratusan Warga Binaan
Bengkulu – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bengkulu menggelar kegiatan Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) melalui pemeriksaan rontgen dada bagi warga binaan, Rabu (27/8). Kegiatan ini menyasar sebanyak 576 warga binaan baik yang berstatus tahanan maupun narapidana. Dimana kegiatan ini rencananya akan digelar hingga jum'at mendatang.
Kegiatan skrining TBC ini merupakan implementasi program Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan merupakan bagian dari program nasional percepatan penanggulangan TBC.
Kepala Rutan Bengkulu, Yulian Fernando melalui Kasubsi Pelayanan Tahanan, Rafi Rizaldi, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi warga binaan, tetapi juga bagian dari kontribusi nyata Rutan Bengkulu dalam mewujudkan eliminasi TBC pada tahun 2030, sebagaimana amanah Presiden Republik Indonesia.
“Pemeriksaan kesehatan ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis. Untuk hari pertama ini kita targetkan untuk 193 warga binaan. Kami berharap dapat menemukan kasus TBC sejak dini sehingga segera diberikan terapi, sekaligus menekan angka penularan di lingkungan rutan,” ujar Rafi.
Keberhasilan peningkatan temuan kasus TBC pada tahun 2022 dan 2023 melalui intervensi Active Case Finding (ACF) TBC dengan Chest X-Ray (CXR) menjadi dasar pelaksanaan program ini. Pada tahun 2025, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bersama Kementerian Kesehatan dan WHO memperluas cakupan target dengan menyelenggarakan ACF TBC CXR di seluruh 532 Rutan, LPAS, Lapas, dan LPKA di Indonesia.
Tidak hanya TBC, kegiatan skrining juga disertai dengan intensifikasi penemuan kasus HIV dan Hepatitis C. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mewujudkan eliminasi TBC, HIV, dan Hepatitis C di seluruh Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan pada 2030.
"Melalui kegiatan ini, pemerintah menargetkan agar kasus TBC dapat ditemukan lebih cepat sehingga pasien positif segera mendapatkan terapi. Selain itu, pelaksanaan skrining diharapkan dapat meningkatkan temuan kasus HIV dan Hepatitis C, terutama pada pasien TBC, sehingga perawatan terpadu bisa dilakukan secara lebih efektif," papar Rafi,
Dengan penemuan dan penanganan yang lebih dini, angka kematian akibat TBC, HIV, dan Hepatitis C di lingkungan pemasyarakatan dapat ditekan secara signifikan. Di sisi lain, skrining massal ini juga penting untuk mengetahui seberapa besar beban penyakit menular di Rutan, sehingga pemerintah memiliki gambaran nyata mengenai kondisi kesehatan warga binaan sekaligus dapat menyusun langkah penanganan yang lebih tepat sasaran.
Rafi juga menambahkan bahwa lingkungan Rutan maupun Lapas merupakan area yang rawan penyebaran penyakit menular karena kepadatan hunian. Oleh sebab itu, intervensi kesehatan seperti skrining massal TBC ini sangat penting dilakukan.
“Upaya pencegahan dan pengendalian TBC, HIV, serta Hepatitis C di UPT Pemasyarakatan bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga bagian dari penghormatan terhadap hak asasi warga binaan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak,” ungkap Rafi.
Kegiatan skrining ini mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk dari Perwakilan Dinas Kesehatan Kota Bengkulu. Giat ini juga difasilitasi langsung oleh Tim Tirta Medical Center yang merupakan vendor yang bekerja sama langsung dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS). Pihak penyedia jasa rontgen mobile tersebut mendatangkan peralatan khusus ke Rutan Bengkulu. Dengan begitu, seluruh warga binaan dapat diperiksa tanpa harus keluar dari lingkungan rutan.
Pemerintah menargetkan, dengan pelaksanaan skrining secara menyeluruh di seluruh Rutan, Lapas, LPAS, dan LPKA di Indonesia, angka penemuan kasus TBC, HIV, dan Hepatitis C akan meningkat signifikan. Hal ini diharapkan menjadi pijakan penting untuk mempercepat penanggulangan penyakit menular, khususnya di lingkungan pemasyarakatan.
“Harapan kita bersama, kegiatan ini bukan hanya menemukan dan mengobati, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menurunkan angka kematian akibat TBC, HIV, dan Hepatitis C, serta mewujudkan target eliminasi penyakit tersebut pada 2030,” tutup Rafi.
