Rutan Bengkulu Perkuat Pembinaan WBP Lewat Seminar Bahaya Narkoba
BENGKULU – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bengkulu bekerja sama dengan Ikatan Konselor Adiksi Indonesia (IKAI) Wilayah Bengkulu, kembali menggelar kegiatan layanan rehabilitasi pemasyarakatan yang berlangsung pada Senin (4/7). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam menangani permasalahan penyalahgunaan narkotika khususnya warga binaan Rutan Bengkulu.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini mengusung pendekatan edukatif dan terapeutik. Sebanyak 60 warga binaan kasus narkotika mengikuti seminar edukasi dasar yang diselenggarakan di Masjid At-Taubah Rutan Bengkulu. Seminar ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba serta membangun kesadaran dan motivasi warga binaan untuk menjalani hidup yang lebih sehat dan bebas dari ketergantungan.
Pertemuan kali ini diisi oleh sejumlah konselor profesional dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bengkulu dan Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Bengkulu. Mereka memberikan materi edukatif mengenai konsep dasar adiksi, pemulihan, serta strategi mengelola pemicu kekambuhan. Salah satu pemateri utama, Rezza Arizona, yang juga merupakan Konselor BNNP Bengkulu, menyampaikan beberapa poin penting mengenai pentingnya pemahaman terhadap diri sendiri dalam proses pemulihan.
“Adiksi bukan sekadar masalah fisik, melainkan juga menyentuh aspek psikologis dan sosial. Karena itu, program rehabilitasi harus menyeluruh, dimulai dari kesadaran diri,” ungkap Rezza saat memberikan pemaparan kepada para peserta.
Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas IIB Bengkulu, Rafi Rizaldi, hadir langsung dalam kegiatan ini dan menyampaikan apresiasinya atas kerja sama lintas lembaga yang terjalin. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini merupakan bagian dari pembinaan berkelanjutan yang dirancang untuk mempersiapkan warga binaan kembali ke masyarakat dengan lebih baik.
“Kami menyadari bahwa masalah narkotika adalah masalah serius dan kompleks. Oleh karena itu, pendekatan rehabilitatif menjadi sangat penting untuk menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan. Kami berharap kerja sama ini bisa terus berjalan ke depannya,” ujar Rafi Rizaldi.
Selain sesi seminar, acara juga diisi dengan diskusi kelompok (group sharing) yang melibatkan partisipasi aktif dari para warga binaan. Dalam sesi ini, para peserta diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman pribadi, tantangan yang dihadapi dalam proses pemulihan, serta harapan mereka setelah menjalani masa hukuman. Sesi ini berlangsung hangat dan penuh empati, menciptakan suasana suportif yang membantu memperkuat semangat perubahan dalam diri para peserta.
Kegiatan layanan rehabilitasi ini merupakan langkah nyata dari Rutan Kelas IIB Bengkulu dalam membangun sistem pemasyarakatan yang humanis dan berbasis pemulihan. Dengan sinergi antara pihak rutan, konselor adiksi, dan lembaga terkait, diharapkan para warga binaan dapat menjalani proses pembinaan secara maksimal dan siap kembali ke tengah masyarakat sebagai individu yang lebih baik.
