Di Antara Lumpur dan Peluh, Kami Menanam Harapan

“Di Balik Lumpur, Tertanam Ketulusan Prajurit dan Harapan Warga”
Di ujung selatan Pulau Lombok, di sebuah pelosok desa bernama Bagu, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, hamparan sawah yang menguning dan kebun tembakau yang hijau menari ditiup angin jadi pemandangan yang menenangkan hati. Namun, di balik lanskap alam yang memesona itu, tersembunyi cerita panjang tentang keterasingan, kesunyian, dan perjuangan. Desa ini, meski kaya akan hasil bumi dan semangat warganya, telah lama tersekat oleh keterbatasan infrastruktur yang membuat mereka seakan berjalan sendirian di lorong waktu.

"Menembus Medan Demi Meningkatkan Aksesibilitas Warga"
Jalan utama yang menghubungkan dusun-dusun di daerah ini hanyalah jalur sempit berlumpur yang nyaris tak layak disebut jalan. Saat musim kemarau, debu tebal mengepul setiap kali roda motor melintasinya. Tapi saat musim hujan datang, tanah berubah menjadi lumpur pekat, menenggelamkan ban dan memaksa siapa pun yang lewat untuk menuntun kendaraannya sambil berjuang agar tidak tergelincir. Truk pengangkut hasil panen tak bisa masuk, dan para petani harus rela memikul karung-karung berat sejauh belasan bahkan puluhan kilometer, hanya demi menjual gabah, tembakau, atau hasil kebun mereka ke pasar.
Namun hari ini, segalanya mulai berubah. Suara mesin ekskavator yang meraung, derap langkah kaki yang sibuk, dan suara canda tawa yang memenuhi udara menjadi tanda bahwa Desa Bagu tidak lagi berjalan sendiri. TMMD ke-124, sebuah program sinergi antara TNI dan masyarakat, hadir membawa lebih dari sekadar pembangunan jalan. Ia membawa perubahan. Ia membawa harapan. Dari tanah yang dulu membatasi, kini tumbuh jalan yang menyatukan.

“Bahu Membahu, Membangun Harapan dari Tanah yang Sama”
Jalan Baru, Hidup Baru
Di dusun yang sebelumnya seperti terputus dari peradaban, kini muncul denyut baru. Setiap hari, sejak pagi hingga menjelang senja, para prajurit TNI dan warga desa bekerja berdampingan. Mereka saling membantu, saling menyemangati, dan saling tertawa meski tubuh dibalut peluh. Pekerjaan fisik yang berat itu tak lagi terasa melelahkan ketika dijalani bersama dalam semangat kebersamaan.
Warsito (42), seorang ketua kelompok tani yang juga aktif dalam kegiatan dusun, memandang jauh ke arah jalur tanah yang mulai ditimbun batu dan pasir. Matanya berbinar, bukan karena kelelahan, tapi karena harapan. “Buat kami, jalan ini bukan cuma soal infrastruktur. Ini soal kehidupan. Ini tentang bagaimana anak-anak kami bisa punya masa depan yang lebih baik. Kami ingin bisa seperti warga lain di desa bawah, yang bisa menjual hasil panen ke pasar tanpa harus memikulnya di bahu. Kami ingin keluar dari keterasingan ini,” ujarnya dengan nada lirih tapi penuh tekad.
Di sampingnya, Sutrisno (45), seorang petani tembakau, tampak tengah mengistirahatkan tubuhnya di bawah pohon rindang. Keringat masih mengalir di pelipisnya, namun senyumnya tak pernah luntur. “Kalau musim hujan datang, ya sudah, kami pasrah. Gabah kami sering rusak karena kebanjiran lumpur. Truk nggak bisa masuk. Mau jual ke pasar, susahnya minta ampun. Dan itu bukan kejadian baru. Dari zaman almarhum Pak Zaini, bapak saya, kami sudah mengalami hal yang sama,” ceritanya, mengenang perjuangan lintas generasi yang selama ini mereka jalani dalam diam.
Siti (38), seorang ibu rumah tangga yang juga ibu dari tiga anak, menyambung cerita itu dengan nada haru. “Anak-anak saya harus jalan kaki memutar hampir tiga kilometer setiap hari buat bisa sampai sekolah. Jalannya licin, becek, dan banyak lubang. Saya selalu cemas kalau hujan turun. Tapi sekarang, saya punya harapan, mungkin nanti mereka bisa berangkat sekolah dengan sepeda, tanpa harus jatuh-jatuh lagi.”

"Jalan Ini Kami Bangun: Dari Lumpur, Keringat, dan Harapan"
Lumpur Masa Lalu, Jalan Masa Depan
Letkol Inf Karimmuddin, Dansatgas TMMD ke-124, berdiri di tengah kerumunan warga dan pasukannya dengan semangat yang tak kalah menyala. “Kami tidak datang ke sini hanya untuk menggali tanah atau membangun jalan. Kami datang untuk menanamkan semangat. Kami ingin membangkitkan potensi warga yang selama ini terkubur oleh keterbatasan,” ujarnya. “Pembangunan bukan sekadar soal infrastruktur. Ini adalah tentang jalinan rasa antara TNI dan rakyat. Ini tentang saling percaya, saling mendukung.”
Setiap pagi, dusun ini berubah menjadi medan gotong royong yang hangat. Warga mengangkut batu, mencampur semen, dan menata parit. Para prajurit menyingsingkan lengan, bekerja seperti warga desa sendiri, tak ada sekat. Bahkan Mirna (67), seorang nenek yang sudah sepuh, ikut mengangkat ember kecil berisi pasir. “Saya nggak mau hanya duduk-duduk. Ini buat cucu-cucu saya. Dulu di Bagu, ibu-ibu juga semangat gotong royong. Masa saya kalah?” katanya sambil tersenyum lebar, menyiratkan semangat juang yang tak pernah padam meski usia terus bertambah.

"Bersama Menembus Batas: Jalan untuk Masa Depan Desa"
Pondasi untuk Puluhan Tahun Mendatang
Tidak hanya mengejar rampungnya proyek, pembangunan jalan ini diawasi dengan teliti untuk memastikan kualitas dan ketahanannya dalam jangka panjang. Kolonel Arm. Tejo Widhuro, S.Sos., M.Si., dari tim Wasev (Pengawasan dan Evaluasi), menegaskan bahwa jalan ini dirancang agar mampu bertahan puluhan tahun. “Kami tidak ingin jalan ini hanya bertahan satu musim. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan desa ini,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah daerah, dukungan juga mengalir penuh. Dr. H. Nursiah, S.Sos., M.Si., Wakil Bupati Lombok Tengah, menegaskan bahwa inilah bukti nyata semangat kolaborasi yang kuat. “Ketika TNI, pemerintah daerah, dan warga bersatu dalam satu visi, hasilnya bisa luar biasa. Jalan ini bukan hanya membuka akses, tapi juga menurunkan ongkos angkut hasil panen hingga 40 persen. Dampaknya langsung terasa bagi perekonomian warga,” jelasnya.

"Di Balik Gerobak Merah: Semangat Tak Kenal Lelah Membangun Desa"
Lebih dari Sekadar Jalan
Di balik semua pengerjaan fisik itu, tumbuh pula nilai-nilai yang lebih dalam. Kebersamaan yang semula hanya sekadar bertemu di sawah atau pasar, kini menjelma menjadi rasa persaudaraan. Para prajurit tidak lagi dipandang sebagai tamu, melainkan keluarga. Warga merasa diperhatikan, dihargai, dan didengar.
Ibu-ibu desa kini rutin memasak makan siang bagi para pekerja. Anak-anak yang dulu bermain lumpur karena tak ada ruang bermain, kini ikut melihat mesin dan alat berat dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka pun menyimpan harapan, bahwa suatu hari, mereka akan melihat dusunnya seperti yang sering mereka lihat di televisi—tersambung, maju, dan berdaya.
Sebuah plakat sederhana bertuliskan “Bersama TMMD, Kami Melangkah Maju” berdiri di pinggir jalan. Ia bukan sekadar papan nama proyek, tapi menjadi simbol harapan yang tumbuh dari kerja sama dan ketulusan hati.

"Monumen Kecil, Makna Besar: Bukti Sinergi TNI dan Warga"
Ketika Jalan Membawa Pulang Harapan
Waktu akan terus berjalan, dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, jalan ini akan mengalami retak, atau bahkan berlubang kembali. Tapi yang tidak akan pernah pudar adalah ingatan akan hari-hari ketika semua elemen masyarakat bersatu, ketika tidak ada lagi sekat antara rakyat dan prajurit, antara warga dan pemerintah.
Jalan ini bukan hanya membelah tanah, tapi juga membelah batas-batas keterisolasian. Ia menghubungkan tidak hanya titik geografis, tapi juga hati dan harapan. Jalan ini adalah bukti bahwa ketika tangan-tangan berbeda saling menggenggam, maka yang mustahil pun bisa menjadi mungkin.

“Menembus Jalan Tanah, Mengantar Harapan ke Rumah”
“Dari tanah yang dulu memisahkan, kini tumbuh harapan yang menyatukan.”
Itulah makna sejati dari TMMD. Ia bukan hanya tentang membangun jalan, tapi juga menulis kisah—kisah yang akan diceritakan dari generasi ke generasi, tentang bagaimana sebuah desa kecil di sudut Lombok Tengah akhirnya bangkit, tidak sendiri, tapi bersama.
