Jejak Kaki di Tanah Depeha, Jejak Harapan di Hati Rakyat
Oleh: Letkol Kav Angga Nurdyana, S.Sos., M.I.P.
Komandan Kodim 1609/Buleleng

Desa Depeha membentang di punggung perbukitan tinggi, seperti sebuah lukisan alam yang menggugah rasa takjub. Setiap sudut desa ini menyimpan cerita tentang alam yang menghidupi dan manusia yang bertahan di bawahnya. Terletak lebih dari lima ribu meter di atas permukaan laut, Depeha bukan hanya desa yang tinggi secara geografis, tetapi juga tinggi dalam keindahan dan keheningan yang belum terjamah oleh hiruk pikuk modernitas.
Namun, di balik kedamaian yang seakan tak ternodai, ada tantangan besar yang mengakar dalam keseharian warganya. Desa ini, meski kaya akan alam yang melimpah dengan kebun mangga Arum Manis Klon 143 yang tumbuh subur di lereng-lerengnya terjebak dalam keterbatasan yang menyakitkan: jalan yang rusak parah dan pasokan air bersih yang terbatas.
Setiap hari, warga harus melewati medan berat yang nyaris tak ramah tanah licin saat hujan, berdebu dan terjal saat kering. Jalan-jalan ini bukan hanya penghubung antar rumah, tetapi urat nadi menuju perkebunan sumber utama kehidupan mereka. Ketika akses terputus, hasil panen membusuk sebelum sempat sampai ke pasar. Ketika air menghilang, mereka harus berjalan jauh, menenteng jeriken, menanjak dan menurun, hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tantangan-tantangan ini telah lama menjadi bayangan kelam di balik hijau dedaunan Depeha. Namun seperti dalam kisah-kisah perjuangan yang sejati, cahaya itu akhirnya datang. Bukan sebagai janji manis dari podium, tapi dalam wujud nyata: tangan-tangan prajurit yang membawa harapan bersama program TMMD ke-124.
Saat Harapan Menyentuh Tanah Depeha
Pagi yang cerah pada 6 Mei 2025 menjadi titik balik bagi Desa Depeha. Matahari baru saja muncul dari balik bukit, sinarnya menyentuh wajah tanah yang kering dan berdebu, seakan membangunkan bumi dari tidur panjangnya. Desa yang biasanya tenang berubah menjadi pusat semangat dan harapan baru. Suara tawa anak-anak, langkah riang para warga, dan semilir angin pegunungan yang membawa aroma optimisme memenuhi lapangan desa. Hari itu bukan sekadar pembukaan program, melainkan permulaan dari lembaran baru Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124.

pembukaan TMMD Kodim 1609/Buleleng
Di tengah keramaian itu, Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG., berdiri tegap. Suaranya penuh keyakinan ketika menyampaikan sambutan. Ia tidak hanya menyatakan dukungannya, tetapi juga menegaskan bahwa hari itu menandai lahirnya masa depan yang telah lama dinanti oleh warga Depeha. TMMD bukan sekadar agenda tahunan, tapi jembatan nyata menuju kehidupan yang lebih layak.
Kodim 1609/Buleleng menjadi pelaksana utama kegiatan ini. Para satgas TMMD, yang berdiri sejajar dengan masyarakat, bukan hanya hadir membawa seragam dan alat berat, tetapi juga membawa tekad, kepekaan sosial, dan semangat pengabdian. Di bawah koordinasi Kodim, TMMD menjelma menjadi kekuatan transformatif yang menyatukan militer dan sipil dalam satu tujuan mulia membangun desa dari akar terdalamnya.
Menapak Jalan Baru, Menggenggam Masa Depan

Tahap pembuatan jalan usaha tani
Dengan semangat yang tak kenal lelah, pekerjaan pun dimulai. Jalan usaha tani sepanjang 1.255 meter mulai dibuka, melintasi hamparan kebun yang subur dan menjanjikan. Jalan ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tapi urat nadi bagi kehidupan ekonomi warga Depeha. Sebagian besar lahan di sekitarnya merupakan perkebunan mangga Arum Manis buah manis yang telah lama menjadi identitas dan kebanggaan desa ini.
Di kanan dan kiri jalan, pohon-pohon mangga menjulang rindang, daunnya berbisik diterpa angin gunung yang lembut. Aroma harum buah masak menguar dari sela-sela rimbunnya dedaunan. Di antara batang-batang kokoh itu, tampak seorang lelaki paruh baya memegang galah panjang. Dengan hati-hati, ia menyentuh satu per satu buah mangga yang siap petik, lalu meletakkannya dalam keranjang bambu di kakinya.
Saya menghampirinya. Wajahnya ramah, meski terlihat lelah. Bajunya basah oleh keringat, namun senyumnya merekah seperti pohon-pohon di sekitarnya yang tengah berbuah lebat.
"Panennya bagus, Pak?" tanya saya
"Bagus, Pak Dandim. Tapi bawa ke pasar susah. Jalannya licin, kadang motor nggak bisa lewat," jawabnya sambil menunjuk ke arah jalan lama yang kini tertutup semak dan lumpur.
Saya menatap jalan yang sedang kami buka, di mana excavator masih bekerja memotong tebing dan meratakan tanah. Truk-truk lalu lalang membawa material, dan molen berdetak ritmis, mencampur pasir dan semen untuk membuat rabat beton selebar empat meter. Ini bukan jalan biasa ini adalah akses yang akan mengubah hidup mereka.
"Nanti kalau jalan ini sudah jadi, panennya bisa langsung dibawa pakai pick up. Nggak perlu jalan kaki lagi," kata saya.
Ia mengangguk, matanya berbinar. "Iya, Pak. semoga segera selesai Pak."
Percakapan kami singkat, tapi dalam. Setiap kata yang terucap terasa berat oleh harapan yang selama ini dipendam.
Reservoar Harapan di Tanah yang Dahaga
Namun, perjalanan TMMD di Depeha tak hanya berhenti di pembukaan jalan. Di sudut lain dari desa yang mulai menggeliat, sebuah perjuangan lain tengah berlangsung. Di antara tanah cadas dan bebatuan yang keras, para satgas TMMD membungkuk dalam kerja tanpa banyak kata, merangkai besi demi besi, menyusun cetakan-cetakan masa depan.

Pembangunan reservoar bak penampungan air
Di lokasi yang sebelumnya hanyalah lahan kosong bersemak, kini berdiri kerangka awal dari sebuah reservoar bak penampungan air berukuran 6 x 7 meter dan setinggi 2,5 meter. Bangunan itu belum selesai, tapi bentuknya sudah mulai terlihat. Seolah-olah desa ini perlahan mulai memahat kehidupannya kembali, batu demi batu, semen demi semen.
Di desa yang sering menanti hujan seperti menanti mukjizat, air bukan sekadar kebutuhan. Ia adalah harapan yang ditadah dalam ember-ember kecil dan doa-doa panjang. Ketika proyek ini selesai, air bersih akan mengalir untuk 60 kepala keluarga. Tak perlu lagi berjalan jauh menenteng jeriken. Tak perlu lagi menunggu giliran di pancuran kecil yang debitnya makin surut di musim kemarau.
Reservoar itu bukan hanya struktur beton. Ia adalah sumur harapan. Simbol bahwa di balik segala keterbatasan, masih ada negara yang hadir, masih ada tangan yang bekerja dalam diam, dan masih ada tekad yang tak pernah padam.
Saya berdiri sejenak di tepiannya, menyaksikan seorang prajurit muda mengencangkan kawat pengikat rangka besi. Peluh menetes dari dahinya, namun matanya tetap fokus, seolah memahami bahwa apa yang ia bangun bukan sekadar konstruksi fisik, tapi hidup yang lebih layak bagi puluhan keluarga.
Gotong Royong, Nadi yang Menghidupkan Pembangunan
Jika ada satu hal yang menjadi ruh dari TMMD di Desa Depeha, maka itu adalah semangat gotong royong. Di balik deru mesin dan denting alat berat, ada tangan-tangan warga yang ikut bekerja tanpa pamrih. Tanpa komando, mereka datang sejak pagi, membawa cangkul, karung, atau sekadar tenaga dan senyum tulus.

Gotong royong yang sangat Bersama warga
Setiap harinya, puluhan warga bergantian membantu. Ada yang menata batu, mengangkat semen, membersihkan sisa material, atau sekadar menyemangati yang lain. Gotong royong bukan hanya tradisi di sini ia adalah jiwa. Dan kami, para satgas TMMD, merasa bukan sedang bekerja di desa orang lain, tetapi di kampung sendiri.
Yang tak kalah menggugah adalah kehadiran para siswa-siswi SMK Bali Mandara. Mereka datang dengan seragam olahraga, membawa botol minum dan semangat belajar langsung dari lapangan. Beberapa membantu batu dan ember cor, dan lainnya mendokumentasikan kegiatan sebagai bagian dari tugas literasi sekolah.
Saya sempat berbincang dengan seorang siswi kelas XI yang tengah menyapu sisa semen di sekitar jalan rabat. "Kami senang bisa ikut bantu, Pak. Biasanya kami belajar dari buku, sekarang bisa langsung lihat bagaimana pembangunan itu dimulai," ucapnya sembari tersenyum bangga.
Di hari itu, perbedaan usia, latar belakang, dan peran melebur dalam satu semangat yang sama. Kami bukan lagi prajurit, petani, pelajar, atau pegawai desa kami adalah pekerja harapan yang sedang menulis masa depan bersama.
Ketika Langkah Kecil Menjadi Bagian dari Cita Besar

Mayjen TNI Joko Hadi Susilo, S.I.P., Ketua Tim Wasev tinjau ssaran kegiatan TMMD
Langit Depeha masih sejuk ketika rombongan Tim Wasev tiba. Mereka datang bukan untuk menilai semata, tetapi untuk merasakan sendiri denyut pembangunan yang sedang bergetar di desa ini. Dipimpin langsung oleh Aster Kasad, Mayjen TNI Joko Hadi Susilo, S.I.P., kunjungan ini menjadi penguat semangat yang tak ternilai.
Mayjen Joko berdiri di tengah warga, menatap hasil kerja yang sudah tercapai. Bukan hanya jalan dan bangunan yang ia lihat, tetapi juga semangat gotong royong yang tumbuh kembali di antara prajurit dan rakyat. Dalam pandangannya, TMMD bukan sekadar program kerja tahunan, tetapi bagian dari cita besar bangsa mewujudkan pemerataan pembangunan dan ketahanan nasional dari titik terkecil desa.
Kami, sebagai pelaksana dari Kodim 1609/Buleleng, merasa terhormat. Karena apa yang kami kerjakan di sini dari menggali tanah hingga menyapu sisa semen ternyata punya makna jauh lebih luas dari yang terlihat.
Menyulam Kehidupan dalam Setiap Detail

Pembangunan MCK
Namun, pembangunan bukan semata tentang infrastruktur. TMMD di Desa Depeha juga menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam. Di antara kerja keras dan deru mesin, terselip upaya membangun martabat dan kenyamanan warga. Tiga unit MCK layak dan bersih dirancang sebagai fasilitas sanitasi yang memadai, sementara pipanisasi sepanjang 2 kilometer mengalirkan akses air bersih hingga ke pelosok yang selama ini terasing.
Lebih dari itu, penanaman 300 pohon mangga di lahan desa bukan hanya sebuah investasi untuk masa depan, tetapi juga simbol kekekalan identitas. Setiap pohon yang tumbuh adalah janji bahwa kehidupan akan selalu berbuah manis, meski diliputi oleh rintangan. Renovasi tiga unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) pun mengukir senyum di wajah warga. Bapak I Ketut Buktiasa, seorang buruh tani berusia 45 tahun, kini bisa menyaksikan keajaiban; dari rumah yang dulunya rapuh dengan dinding anyaman bambu dan atap seng berkarat, berubah menjadi kediaman yang layak, kokoh, dan penuh harapan.
Di samping fisik yang mulai tersusun kembali, TMMD juga membuka lahan ketahanan pangan seluas 2 hektar. Lahan itu nantinya akan dikelola bersama oleh warga, menanam tanaman pangan yang cepat panen sebagai upaya mandiri mencapai kecukupan. Sungai yang pernah tersumbat sampah kini mengalir lancar kembali, memberikan nuansa segar bagi pasar desa yang pun dirapikan agar kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi yang sehat. Tak lupa, bantuan berupa 200 paket sembako disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, menegaskan bahwa setiap langkah pembangunan adalah soal kepedulian dan keadilan sosial.
Menyentuh Hati Lewat Kegiatan Nonfisik
Penyuluhan UMKM Ajik Cok Krisna, tokoh UMKM nasional
TMMD ke-124 di Depeha tak hanya fokus pada pembangunan fisik seperti jalan, reservoar, atau senderan. Lebih dari itu, misi utamanya adalah membangun manusia melalui kegiatan nonfisik yang menyentuh langsung kehidupan warga. Bersama masyarakat, para prajurit menggelar berbagai penyuluhan seperti bela negara, cinta tanah air, kamtibmas, pertanian berkelanjutan, hingga kewirausahaan. Dalam penyuluhan UMKM, Ajik Cok Krisna, tokoh UMKM nasional, hadir memberikan motivasi dan wawasan pemasaran. Ia berbagi pengalaman membangun usaha dari bawah, pentingnya inovasi, dan strategi menembus pasar yang lebih luas, memberikan inspirasi besar bagi warga.
Di tengah semangat gotong royong, penyuluhan agama juga menjadi bagian penting yang menanamkan nilai-nilai spiritual sebagai landasan perubahan. Kegiatan ini berlangsung di balai dan sudut desa, disambut dengan antusiasme tinggi. Suasana penuh keakraban—gelak tawa, tanya jawab, hingga keheningan saat pemahaman baru mulai tumbuh—menjadi bukti bahwa pembangunan jiwa warga berjalan seiring dengan pembangunan fisik.
Dengan pendekatan yang menyeluruh, TMMD ke-124 menjelma menjadi gerakan pemberdayaan yang menyentuh banyak lapisan masyarakat. Tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun kesadaran, keterampilan, dan harapan baru bagi warga desa. Ini adalah langkah nyata dalam mewujudkan desa yang maju tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial dan spiritual.
Beton, Besi, dan Hati yang Bekerja
Bukan hanya alat berat yang bekerja siang malam di Depeha. Ada tangan-tangan yang kasar namun penuh ketulusan, ada tubuh-tubuh yang lelah tapi tak pernah mengeluh. Di balik deru excavator dan gemuruh molen yang mencampur pasir dan semen, ada denyut semangat yang tak bisa diukur oleh satuan apa pun selain ketulusan pengabdian.

Satgas TMMD Kodim 1609/Buleleng
Satgas TMMD Kodim 1609/Buleleng tak datang dengan janji, mereka datang dengan langkah nyata. Sejak pagi buta hingga senja merambat turun, mereka menggali, memikul, menyusun, dan menuangkan tenaga untuk satu tujuan: memberikan kehidupan yang lebih baik bagi Desa Depeha.
Dan perjuangan itu kini telah membuahkan hasil

Jalan usaha tani sudah selesai 100%
Jalan usaha tani sepanjang 1.255 meter yang dulu hanya bayangan di peta kini terbentang kokoh, dipadatkan dengan rabat beton selebar 4 meter. Di kanan-kiri jalan, pohon-pohon mangga menjulang tenang, seolah mengangguk mengucap terima kasih karena akhirnya ada jalur layak untuk membawa hasil panen keluar desa. Dulu, tanah becek dan jalan licin menjadi musuh utama warga ketika memikul hasil kebun. Kini, kendaraan bisa masuk, hasil bumi bisa dijual lebih cepat, dan harapan bisa tumbuh lebih luas.

Reservoar air berukuran 6 x 7 meter dengan tinggi 2,5 meter telah rampung dibangun
Tak jauh dari situ, sebuah struktur persegi mulai berdiri gagah. Reservoar air berukuran 6 x 7 meter dengan tinggi 2,5 meter telah rampung dibangun. Di sinilah, air bersih yang dulu hanya bisa ditadah dari langit, akan ditampung dan disalurkan ke 60 kepala keluarga. Proyek ini adalah penawar dahaga yang sesungguhnya, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin.
Saya Komandan Kodim 1609/Buleleng berdiri di antara para anggota yang tersenyum kelelahan. Di mata mereka, saya melihat sesuatu yang tak bisa dibentuk dari latihan militer: rasa memiliki. Karena ketika membangun sesuatu bersama rakyat, kami bukan hanya prajurit, kami adalah bagian dari keluarga besar negeri ini.
Menganyam Jejak Pengabdian
Saat mentari mulai tenggelam, meninggalkan semburat jingga yang mempercantik cakrawala, Desa Depeha telah berubah menjadi lebih dari sekadar tempat. Ia kini menjadi lambang harapan, simbol keberanian, dan bukti nyata bahwa mimpi bisa dibangun dengan kerja keras dan kebersamaan. Di balik setiap detail pembangunan, ada kisah air mata, tawa, dan pelukan kisah yang menganyam benang-benang kehidupan menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.
Di penghujung hari, di bawah langit yang perlahan gelap, tersimpan keheningan yang penuh arti. Masyarakat dan satgas TMMD pulang dengan hati yang penuh syukur, membawa serta kenangan bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari perjalanan besar menuju masa depan yang lebih gemilang. Di Desa Depeha, bangunan, jalan, dan reservoar bukan hanya merupakan struktur fisik, melainkan panggung tempat mimpi dan harapan tumbuh, berkembang, dan terus menyala, menyinari setiap sudut kehidupan yang pernah redup.
