Langkah Kecil di Tanah Merah, Jejak Besar di Hati Warga
Oleh: Indra Dwi Saputra

Di bawah naungan langit biru yang terbentang tenang di atas Kabupaten Lingga, tanah merah yang baru diratakan menjadi saksi bisu sebuah gotong royong lintas seragam dan warga. Hutan lebat yang dahulu menutup akses menuju Desa Panggak Laut kini mulai terbuka. Pohon-pohon nipah bergoyang pelan tertiup angin, seolah turut mengamini perubahan yang sedang terjadi.
Di sini, di pelosok Kepri yang jauh dari hiruk-pikuk kota, sebuah perjuangan sedang berlangsung bukan hanya untuk membangun jalan, tetapi juga untuk menghubungkan hati, menyentuh kehidupan, dan mengubah masa depan. Itulah misi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 Tahun 2025, yang kini menjadi denyut harapan baru bagi masyarakat Desa Panggak Laut.

Jalan yang Tak Pernah Ada, Kini Terbuka
"Sejak saya kecil, belum pernah ada jalan seperti ini. Kalau musim hujan, bisa seharian kami terjebak lumpur," kata Bapak Agung, Kepala Desa Panggak Laut, sembari menatap jalan selebar enam meter yang membelah desa.
Kini, jalan itu telah terbuka sepanjang 3.000 meter. 100 persen pembukaan jalan telah selesai, dan proses penimbunan pun mencapai 97 persen. Alat berat, truk, sekop, dan tangan-tangan penuh semangat bergantian bekerja di bawah komando Kodim 0315/Tanjungpinang. Warga dan TNI bahu membahu, tanpa batas.
Letkol Inf Abdul Hamid, S.I.P., Dandim 0315/Tanjungpinang sekaligus Dansatgas TMMD, berdiri di pinggir jalan sambil mengawasi pekerjaan hari itu. Topinya digenggam, wajahnya terlihat puas.
“Kami tidak hanya membangun infrastruktur. Kami ingin memastikan masyarakat merasakan kehadiran negara—langsung, nyata, dan menyentuh,” ujarnya tegas.

Membajak Sawah, Menanam Asa
Di latar depan, seorang prajurit tampak fokus mengendalikan mesin bajak yang berat, sementara lumpur membasahi hingga lututnya. Tak jauh dari sana, beberapa warga dan anggota Satgas lainnya menyusuri pematang dan turun ke lahan sawah, memastikan pengolahan tanah berjalan merata. Langit mendung menjadi saksi kerja keras tanpa pamrih ini. Meski berlumpur dan basah, tak sedikit pun tampak kelelahan di wajah mereka. Justru yang terlihat adalah senyum, semangat gotong royong, dan tekad yang menyala demi ketahanan pangan masyarakat desa.

Dialog yang Tak Akan Dilupakan
Sore itu, sebuah momen sederhana terjadi di rumah seorang warga, Ibu Jumiati, penerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Rumah kecilnya kini berdinding kokoh dan beratap rapi. Bukan lagi lantai tanah, bukan lagi atap bocor.
Saat salah satu anggota Satgas, Sertu Hadi, menyelesaikan pengecatan dinding, Ibu Jumiati datang membawa teh manis dan sebungkus pisang goreng.
“Pak, ini sedikit untuk pengganjal perut. Maaf kalau seadanya,” ucapnya dengan mata berkaca.
Sertu Hadi menoleh, tersenyum ramah, lalu duduk di bangku bambu.
“Bu, rumah ini bukan dari kami saja. Ini dibangun dengan doa Ibu. Kami hanya menyambungkan harapan yang sudah lama tertahan,” jawabnya.
Ibu Jumiati mengangguk pelan, menatap rumahnya.
“Kalau saya boleh jujur, Pak, saya nggak pernah menyangka rumah ini bisa sebagus ini. Anak saya bisa tidur nyenyak, saya tidak takut lagi kalau hujan besar. Terima kasih… terima kasih TNI,” ucapnya, suara gemetar.

Lebih dari Pembangunan Fisik
Selain jalan dan RTLH, TMMD kali ini membawa program-program menyentuh kehidupan warga:
• Pengobatan dan sunatan massal
• Penyuluhan hukum, stunting, radikalisme, hingga ekonomi kreatif
• Pembagian 100 paket sembako dan tambahan gizi balita
• Pembangunan 5 titik TMAB, MCK, dan program unggulan Kasad lainnya
Ibu Teha, seorang ibu paruh baya, kini memiliki fasilitas MCK yang layak. Dulu ia dan keluarganya harus berjalan ke sungai kecil di ujung desa. Kini, MCK berdiri hanya beberapa langkah dari rumahnya.
Saat anggota Satgas memeriksa bangunan MCK, Ibu Teha berkata pelan, “Pak, ini pertama kalinya saya merasa punya tempat yang aman dan bersih buat anak-anak. Saya pikir hidup kami nggak akan berubah. Tapi kalian datang, dan semua jadi berbeda.”

Dari Komando ke Hati
Komandan SSK TMMD, Lettu Inf R. Manurung, mengungkapkan bahwa kerja di medan seperti ini jauh lebih dari sekadar tugas.
“Setiap hari kami bangun pagi, bekerja bersama warga. Di malam hari, kami makan bersama, saling cerita. Mereka tidak hanya menerima, mereka turut berjuang,” ujarnya.
Kasrem 033/Wira Pratama, Kolonel Inf I Ketut Martha Gunarda, menambahkan bahwa TMMD adalah bentuk konkret kehadiran TNI yang tak hanya hadir ketika bencana atau konflik.
“Di sinilah kemanunggalan itu hidup. Saat prajurit duduk di balai desa, saat mereka menggendong anak-anak, saat mereka menyeka keringat warga. Ini bukan sekadar program. Ini pengabdian,” tuturnya.
Pembangunan yang Menyentuh Akar
Bupati Lingga, Muhammad Nizar, menyebut bahwa TMMD telah menjangkau hal-hal yang bahkan pemerintah daerah belum sempat sentuh.
“Kami sangat mengapresiasi. TMMD hadir di tempat-tempat yang sering luput. Mereka hadir bukan dengan janji, tapi dengan kerja nyata,” ungkapnya.
Sementara itu, program seperti penyuluhan bahaya narkoba, mitigasi bencana, posyandu, hingga pengolahan sampah menjadi bekal pengetahuan baru bagi masyarakat yang selama ini minim akses informasi.

Jalan Itu Kini Ada
Saat matahari perlahan turun di balik deretan pohon sagu, anak-anak berlarian di atas tanah merah yang kini telah diratakan. Suara tawa mereka bergema di antara pepohonan, menggantikan sunyi yang dulu jadi langganan desa ini.
Di ujung jalan, seorang warga tua berdiri diam. Tangannya bersandar di tongkat. Ia menatap ke arah jalan dan berbisik pelan kepada seorang prajurit muda yang lewat:
“Anak muda, kalian telah memberi kami lebih dari sekadar jalan. Kalian beri kami arti, bahwa kami tidak sendiri…”
Prajurit itu hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan jejak kaki di atas tanah basah yang kini menjadi simbol harapan baru bagi Panggak Laut.
“TMMD ke-124 bukan sekadar membangun desa. Ia menghidupkan harapan, menyambung hati, dan menanam pengabdian. Di balik seragam loreng, ada tangan yang merangkul, dan di balik jalan tanah merah, ada masa depan yang mulai terbuka.”
