Skip to main content
x
Nasional
Presiden RI Jokowi Widodo

Presiden: Indonesia Serius Hadapi Perubahan Iklim

Wartaprima.com - Presiden Joko Widodo menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Leaders Summit on Climate secara virtual pada Kamis (22/4/2021).

Dalam kesempatan kali itu, Presiden Joko Widodo mengucapkan, apresiasi terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Joseph R Biden yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut secara virtual di tengah wabah global COVID-19.

Mengingat, isu perubahan perubahan iklim sangat penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan alam di masing-masing negara.

"Terima kasih yang mulia Presiden Biden atas penyelenggaraan KTT ini dampak perubahan iklim sangat nyata di hadapan kita.  COVID-19 dan resesi global membuat tantangan semakin kompleks," kata Presiden Joko Widodo yang dikutip dari tayangan Sekretariat Presiden pada Jumat (23/4/2021).

Saat ini Indonesia tengah serius dalam menghadapi perubahan iklim yang terjadi secara masif beberapa waktu belakangan. Banyak hal yang telah dilakukan demi mengendalikan perubahan iklim, agar tidak berubah secara drastis.

Caranya, Indonesia saat ini tengah mencegah terjadinya deforestasi yang mengancam keberlanjutan dari hutan tropis. Dengan melakukan penegakan hukum dan pemberdayaan hutan secara intensif kepada hutan tropis yang dimiliki.

"Melakukan aksi nyata sebagai negara kepulauan terbesar. Indonesia melalui kebijakan pemberdayaan dan penegakan hukum kurangi deforestrasi," katanya.

Hasilnya cukup mengejutkan, kebijakan yang dilakukan selama 20 tahun terakhir telah menghentikan konversi hutan dan lahan gambut mencapai 66.000.000 hektar. Dan juga menurunkan tingkat kebakaran hutan hingga mencapai prosentase 82 persen.

Selanjutnya, pihaknya terus memajukan pembangunan hijau untuk dunia yang lebih baik. Dengan cara menyambut baik Net Zero Emission yang disepakati pada konvensi perubahan iklim di London Inggris. 

Hal tersebut ditargetkan dapat dilakukan pada 2050.  Dukungan terhadap kesepakatan di atas,  rasanya perlu dilakukan oleh seluruh negara. Supaya, pada 2030 negara-negara berkembang bisa ikut mengimplementasikan kebijakan tersebut dalam menyikapi perubahan iklim.

"Komitmen negara maju, dukungan riil dukungan dan pemenuhan komitmen negara-negara maju sangat diperlukan untuk mencapai target," imbuhnya.

Kemudian, kemitraan antar negara-negara yang hadir di KTT ini  juga diperlukan. Sehingga mampu mewujudkan setiap klausul kesepakatan di atas untuk diimplementasikan secara nyata di berbagai negara.

Secara khusus, di Indonesia saat ini, pihaknya akan  membuat percontohan dari Net Zero Emission. Caranya dengan menerapkan mekanisme green industry di Kalimantan Utara (Kaltara) yang akan merehabilitasi hutan mangrove seluas 620.000 hektar sampai dengan 2024.

Upaya di atas, kata Presiden, dapat memberikan inspirasi kepada negara lain yang berada di sekitar untuk melakukan hal yang sama dalam penerapan kesepakatan itu.

"Kita harus terus melakukan aksi bersama kemitraan global yang nyata. Dan bukan saling menyalahkan apalagi menerapkan hambatan perdagangan dengan berdalih isu lingkungan," pungkasnya.