Lindungi Anak dengan Imunisasi dan ASI di Masa Pandemi
Oleh: Agustinur Saputri, ASN BPS Kabupaten Mukomuko
Wartaprima.com - Tak terasa penghujung tahun 2021 telah tiba dan lembaran baru akan segera dimulai di tahun 2022. Tahun 2021 menjadi salah satu tahun yang bersejarah. Pandemi Covid-19 menerjang hebat seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, dan seluruh lini kehidupan tanpa terkecuali. Meski pertama kali Covid-19 terjadi pada awal Maret 2020, puncak dampak Covid-19 justru dirasakan di tahun 2021. Selain krisis sosial ekonomi, salah satu dampak Covid-19 lainnya adalah krisis kesehatan yang menyerang seluruh lapisan masyarakat.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap paparan Covid-19. Kesehatan anak menjadi perhatian yang cukup serius di masa pandemi, terutama upaya melindungi anak-anak dari berbagai macam penyakit dan virus. Anak-anak dengan masa depan yang cerah, cerdas, dan produktif adalah harapan Indonesia, begitu juga dengan Provinsi Bengkulu. Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2014 telah diatur bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, sehingga perlu dilakukan upaya kesehatan anak secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan.
Salah satu upaya kesehatan anak tersebut adalah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka. Untuk mengetahui upaya peningkatan kekebalan tubuh anak-anak yang telah dilakukan serta outcome yang dihasilkan dapat dilihat dari pemberian imunisasi dan ASI pada balita. Lantas, bagaimana pencapaian keduanya untuk Provinsi Bengkulu? Hasil analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Maret 2021 yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu akan menjawab tanda tanya tersebut.
Imunisasi adalah salah satu upaya kesehatan yang bersifat preventif. Dengan imunisasi, anak-anak tidak akan mudah tertular penyakit dan virus berbahaya karena adanya kekebalan terhadap penyakit dan virus tersebut. Hal ini semakin dipertegas oleh World Health Organization (WHO) di tahun 2019 dalam Profil Statistik Kesehatan 2019 yang menyebutkan pentingnya pemberian vaksin karena dapat menjaga kesehatan, menghemat biaya perawatan dan pengobatan, bahkan menyelamatkan jiwa. Kementerian Kesehatan telah mengubah konsep imunisasi dasar lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap yang terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi lanjutan diperlukan untuk mempertahankan kekebalan yang optimal karena imunisasi dasar saja tidak cukup. Imunisasi rutin lengkap bersifat wajib dan biasanya tersedia gratis di fasilitas kesehatan terdekat seperti posyandu.
Cakupan pemberian imunisasi di Provinsi Bengkulu tahun 2021 menunjukkan pencapaian yang menggembirakan. Imunisasi berupa BCG, DPT, Polio, Campak/Morbili, dan Hepatitis B masing-masing mencapai di atas 75 persen untuk balita usia 0-59 bulan yang pernah mendapat imunisasi tersebut. BCG menjadi imunisasi yang paling banyak didapat oleh balita usia 0-59 bulan, yaitu sebesar 93,89 persen, diikuti oleh Polio (93,67 persen), DPT (90,60 persen), Hepatitis B (90,51 persen), dan Campak/Morbili (76,94 persen).
Capaian imunisasi lengkap pada balita usia 0-59 bulan tercatat sebesar 66,21 persen di tahun 2021, yang mengalami kenaikan dibanding tahun 2020 (57,75 persen). Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat Bengkulu yang menyadari betapa pentingnya imunisasi lengkap bagi anak-anak. Dengan adanya peningkatan tersebut diharapkan dapat berpengaruh positif pada semakin luasnya cakupan imunisasi lengkap secara nasional, hingga akhirnya tercapainya tujuan ketiga dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), yaitu memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia.
Namun, capaian imunisasi lengkap di Provinsi Bengkulu ini tampaknya masih membutuhkan usaha yang lebih keras lagi dari pemerintah daerah karena masih di bawah target yang diharapkan oleh pemerintah pusat, yaitu 78 persen. Tentu saja hal ini perlu menjadi perhatian bagi pemerintah daerah karena cakupan imunisasi yang rendah selama masa pandemi dapat menyebabkan akumulasi populasi rentan yang tidak kebal terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Kesehatan anak juga tergantung pada asupan nutrisi dan gizi yang masuk ke dalam tubuh si anak. Salah satu nutrisi yang sangat diperlukan oleh anak adalah Air Susu Ibu (ASI), terutama di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). ASI sangat penting untuk kekebalan tubuh dan mencegah infeksi. Ada sebanyak 96,35 persen baduta usia 0-23 bulan yang pernah diberi ASI di Provinsi Bengkulu tahun 2021. Angka ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 95,60 persen.
Pemberian ASI pada anak sangat dianjurkan untuk dilakukan selama dua tahun karena hal ini berkaitan dengan periode emas (golden age) tumbuh kembang si anak. Periode emas atau disebut juga 1000 HPK terdiri dari 270 hari selama kehamilan dan 730 hari selama dua tahun pertama usianya. Namun, ternyata rata-rata lama pemberian ASI pada anak di Provinsi Bengkulu tahun 2021 hanya sampai 11 bulan saja. Hal ini perlu menjadi catatan khusus bagi pemerintah daerah agar ke depannya durasi pemberian ASI dapat mencapai dua tahun.
Terlepas dari capaian imunisasi dan pemberian ASI pada anak di Provinsi Bengkulu tersebut, di masa pandemi ini penerapan protokol kesehatan (prokes) pada anak-anak dan prokes ketat dari orang tua tetap harus dilakukan karena hal tersebut diharapkan menjadi senjata terakhir untuk melindungi anak-anak dari paparan virus Covid-19.
