Skip to main content
x
rutan

Bukan Hanya Pembinaan, Rutan Bengkulu Tekankan Peran Keluarga dalam Pemulihan

Bengkulu – Program rehabilitasi pemasyarakatan yang digelar Rutan Bengkulu bersama Ikatan Konselor Adiksi Indonesia (IKAI) tidak hanya menekankan pada penyuluhan bahaya narkoba, tetapi juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat dalam proses penyembuhan warga binaan.

Dalam pertemuan kali ini yang berlangsung pada Senin (25/8) menghadirkan konselor dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Para konselor memberikan edukasi mengenai dampak narkoba dan strategi pemulihan. Namun, lebih dari sekadar penjelasan medis, seminar tersebut menegaskan bahwa rehabilitasi tidak bisa berdiri sendiri. Lingkungan sosial di luar tembok rutan memegang peranan penting untuk mengukur keberhasilan program ini.

Program rehabilitasi sendiri dijadwalkan berlangsung dalam 12 pertemuan. Dengan pendekatan bertahap, warga binaan diajak untuk mengenali masalah pribadi, membangun motivasi, dan belajar mengendalikan diri. Meski demikian, para konselor menekankan bahwa usaha ini harus diiringi dengan penerimaan dari keluarga serta dukungan masyarakat agar hasilnya tidak sia-sia.

Rebi, salah satu perwakilan konselor, menegaskan bahwa banyak warga binaan yang kehilangan rasa percaya diri akibat terjerat narkoba. Mereka seringkali merasa ditolak oleh lingkungan sekitar. “Di dalam rutan, mereka bisa belajar, berdiskusi, dan mulai pulih. Tetapi setelah keluar, bila keluarga dan masyarakat tidak mendukung, mereka bisa kembali terpuruk. Dukungan sosial adalah kunci agar rehabilitasi benar-benar berhasil,” jelas Rebi.

Menurutnya, proses penyembuhan ibarat perjalanan panjang. Program di rutan hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya hadir ketika warga binaan kembali ke tengah masyarakat. Jika keluarga mau menerima dengan tangan terbuka, memberikan perhatian, serta mengingatkan secara positif, maka semangat warga binaan untuk hidup sehat akan semakin kuat. Sebaliknya, bila mereka menghadapi penolakan atau stigma, peluang untuk kambuh akan lebih besar.

Kepala Rutan Bengkulu, Yulian Fernando melalui Kasubsi Pelayanan Tahanan, Rafi Rizaldi juga menekankan pentingnya sinergi dengan keluarga dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi tidak bisa hanya diukur dari sisi medis, tetapi juga dari kemampuan warga binaan beradaptasi kembali dalam kehidupan sosial. “Kami ingin warga binaan pulang ke keluarganya dalam keadaan sembuh, dan merasa ada tempat yang menerimanya. Tanpa itu, apa yang kami bangun di sini bisa runtuh,” ungkapnya.

Kegiatan rehabilitasi ini sejalan dengan visi pemasyarakatan modern yang menempatkan aspek pembinaan dan pemulihan sebagai prioritas. Rehabilitasi bukan sekadar menghentikan ketergantungan narkoba, tetapi juga mengembalikan martabat manusia agar siap menjalani hidup yang lebih baik.

Dengan dukungan konselor profesional, program terstruktur di rutan, serta penerimaan yang hangat dari keluarga dan masyarakat, warga binaan memiliki peluang lebih besar untuk benar-benar pulih. Mereka bukan hanya terbebas dari narkoba, tetapi juga dapat kembali membangun hubungan sosial dan menjadi bagian yang produktif dalam masyarakat.

Program di Rutan Bengkulu membuktikan bahwa penyembuhan tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan kolaborasi: rutan, konselor, keluarga, dan masyarakat. Hanya dengan kebersamaan, proses rehabilitasi dapat menjadi jembatan menuju kehidupan baru yang lebih sehat dan bermakna.