Skip to main content
x

Merajut Asa di Batas Negeri: Ketika Seragam Loreng Menghidupkan Lentera Kemanusiaan di Liang Bunyu

A group of people looking at a hole in the ground

AI-generated content may be incorrect.

Ketika fajar menyingsing di cakrawala Selat Sebatik, ombak berbisik lirih menyapa akar-akar bakau yang kokoh memeluk pantai, mengabarkan kisah tentang keteguhan jiwa-jiwa di beranda terdepan nusantara.

Di bawah langit perbatasan yang membentang luas, deru langkah kaki para prajurit bukan lagi penanda sekat pembatas, melainkan simfoni persaudaraan yang meruntuhkan sunyi dan mengalirkan secercah harapan baru bagi jemari-jemari legam penganyam rumput laut yang merindukan kemerdekaan hakiki dari belenggu keterisolasian.

Selama bertahun-tahun, Desa Liang Bunyu yang terletak di Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, memendam asa di tengah keterbatasan geografisnya.

Wilayah pesisir Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini menyimpan potensi besar sebagai sentra rumput laut, namun dilingkupi tantangan topografi berupa perbukitan bergelombang dan akses laut yang memisahkan mereka sejauh 30 hingga 50 kilometer dari pusat kota Nunukan.

Perjalanan panjang selama satu setengah jam melalui perpaduan perahu speedboat dan jalur darat berliku, membelah hamparan sawit dan hutan mangrove, menjadi saksi bisu betapa beratnya urat nadi kehidupan di garis batas negara.

Namun, sejak pertengahan Juli hingga Agustus, tepatnya melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun Anggaran 2026, wajah desa ini mulai bersolek rupa.

Mengusung tema besar "TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa", sebanyak 175 personel gabungan yang terdiri dari TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, jajaran Polres, Pemerintah Daerah, serta bahu-membahu bersama masyarakat setempat, merajut mimpi kolektif demi mengubah wajah wilayah perbatasan.

Mereka tidak sekadar datang untuk membangun semen dan batu, melainkan membawa hati untuk menyatu dengan urat nadi kehidupan masyarakat.

 

A bulldozer digging in the mud

AI-generated content may be incorrect.

Menembus Batas Keterisolasian Melalui Jalan Masa Depan

Akses jalan yang mumpuni laksana aliran darah baru yang mengalirkan energi kehidupan ke seluruh pelosok desa. Di bawah terik matahari perbatasan, para prajurit dan warga mengayunkan cangkul, meratakan tanah, menembus rimbunnya perkebunan kelapa sawit untuk membuka jalan baru sepanjang 3.000 meter dengan lebar 6 meter. Kehadiran infrastruktur utama ini dilengkapi pula dengan pembuatan gorong-gorong di empat titik strategis demi memastikan aliran air tidak merusak badan jalan saat musim penghujan tiba, sehingga jalur ekonomi ini dapat bertahan dalam jangka panjang.

Bagi para petani setempat, pembukaan jalan baru ini bagaikan fajar yang menyingsing setelah malam yang panjang dan melelahkan. Dulu, jalanan berlumpur tebal memaksa mereka memikul karung-karung hasil bumi dengan biaya transportasi yang melambung tinggi, mencekik keuntungan yang tidak seberapa.

Kini, dengan jalur darat yang luas dan rata, kendaraan roda dua maupun roda empat dapat dengan mudah merapat ke ladang, memotong rantai distribusi yang selama ini merugikan masyarakat perbatasan.

Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri, S.E., memberikan penekanan mendalam mengenai arti penting program sektoral ini bagi kemajuan daerah yang dipimpinnya. Beliau menilai langkah taktis TNI ini sangat sejalan dengan visi misi pemerintah daerah dalam memeratakan pembangunan hingga ke pelosok.

"TMMD diakui sebagai akselerator infrastruktur pedesaan dan penguat ketahanan wilayah di Sebatik Barat sebagai beranda NKRI," ujar Bupati H. Irwan Sabri, S.E.

Kegembiraan luar biasa pun membuncah dari sanubari para petani dan pengusaha rumput laut yang sehari-hari menggantungkan hidup dari tanah Liang Bunyu. Mereka kini tidak perlu lagi khawatir hasil panen mereka membusuk karena terkendala akses angkutan yang lambat dan mahal.

"Kami sangat gembira karena jalan baru ini memangkas jarak dan menghemat waktu tempuh untuk mengangkut hasil perkebunan ke pasar," ungkap salah seorang warga lokal dengan mata berkaca-kaca.

 

A person holding a tube

AI-generated content may be incorrect.

Mengalirkan Kehidupan Melalui TNI Manunggal Air dan Sanitasi Layak

Air adalah sumber kehidupan, namun bagi warga Liang Bunyu, setetes air bersih di musim kemarau dahulu berharga layaknya untaian mutiara. Menjawab jeritan hati warga, program TMMD ke-129 menargetkan pembuatan sumur di lima titik strategis serta pembangunan lima unit fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang higienis.

Infrastruktur sanitasi dan pemenuhan air bersih ini dibangun dengan teknologi tepat guna agar mampu menyuplai kebutuhan domestik warga tanpa membebani keuangan desa.

Pembangunan sumur air ini sekaligus memutus ketergantungan menahun warga terhadap kondisi cuaca yang sering kali tidak menentu di wilayah pesisir. Kehadiran MCK yang bersih dan layak juga mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih sehat, mencegah penularan berbagai penyakit lingkungan, serta menaikkan martabat sosial warga perbatasan.

Air yang mengalir dari pipa-pipa baru ini tidak hanya membersihkan raga, tetapi juga membasuh dahaga keadilan sosial yang telah lama dinanti.

Kepala Desa Liang Bunyu, Mansur, tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bangganya saat menyaksikan air bersih mulai memancar dari sumur-sumur baru di desanya. Pembangunan sumur ini laksana mukjizat kecil yang hadir di tengah-tengah pemukiman mereka yang gersang saat kemarau.

"Sebelum adanya TMMD, warga sangat bergantung pada air tadah hujan dan kesulitan saat kemarau panjang," tutur Kades Mansur mengingat masa-masa sulit warganya.

Sementara itu, Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) TMMD ke-129 Kodim 0911/Nunukan, Letkol Inf. Toni Prasetyo, S.Hub.Int., M.H.I., menegaskan komitmen penuh jajarannya dalam memastikan kualitas proyek infrastruktur air dan sanitasi tersebut. Baginya, setiap tetes air yang mengalir harus menjadi saksi dedikasi TNI untuk rakyat.

"Pengerjaan sasaran utama termasuk pembukaan akses jalan tani sepanjang 3.000 meter serta sasaran tambahan diselesaikan dengan standar mutu terbaik demi kemaslahatan ekonomi warga jangka panjang," tegas Letkol Inf. Toni Prasetyo.

 

A group of people working on a building

AI-generated content may be incorrect.

Menegakkan Martabat di Bawah Atap Rumah Layak Huni

Gubuk-gubuk reot yang dahulu bocor kala hujan deras dan pengap saat terik matahari kini telah berganti rupa menjadi hunian yang kokoh dan sehat. Sebanyak lima unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik warga kurang mampu dirombak total oleh jemari-jemari cekatan prajurit TNI dan tetangga sekitar yang bahu-membahu tanpa pamrih.

Tidak hanya itu, sebagai pusat spiritualitas warga desa, satu unit masjid utama di desa tersebut turut mendapat sentuhan renovasi agar para jamaah dapat beribadah dengan lebih khusyuk dan nyaman.

A group of men in military uniforms

AI-generated content may be incorrect.

Dinding papan yang baru, fondasi yang kuat, serta atap yang rapat kini melindungi keluarga-keluarga penerima manfaat dari kerasnya alam perbatasan. Program bedah rumah ini bukan sekadar urusan estetika bangunan, melainkan sebuah upaya memanusiakan manusia dan memberikan rasa aman bagi mereka yang menjaga batas kedaulatan negara.

Di dalam rumah-rumah baru inilah, tawa anak-anak perbatasan kini terdengar lebih renyah tanpa ketakutan akan robohnya tiang penyangga.

Wiliem, salah satu warga Liang Bunyu yang beruntung mendapatkan program rehabilitasi RTLH, berulang kali mengusap air mata kebahagiaan di sudut matanya saat melihat rumahnya kini berdiri megah. Baginya, bantuan dari para tentara ini adalah berkah terbesar yang mengubah jalan hidup keluarganya.

A person in military uniform giving thumbs up to another person

AI-generated content may be incorrect.

"Saya merasa terbantu dengan program TMMD yang mewujudkan rumah layak huni bagi keluarga, serta menyampaikan terima kasih kepada Kodim 0911/Nunukan karena telah meringankan beban ekonomi kami," ucap Wiliem penuh keikhlasan.

Komandan Korem (Danrem) 092/Maharajalila, Brigjen TNI Mohammad Sjahroni, S.E., M.Han., menyatakan bahwa program bedah rumah dan tempat ibadah ini merupakan bagian dari strategi besar memperkuat jaring pengaman sosial di perbatasan. Rumah yang layak adalah fondasi utama keluarga yang sejahtera dan tangguh.

"TMMD ke-129 di Pulau Sebatik merupakan manifestasi nyata bahwa negara terus hadir di wilayah perbatasan NKRI-Malaysia," jelas Brigjen TNI Mohammad Sjahroni.

 

A person in a military uniform talking to a person

AI-generated content may be incorrect.

Menjaga Keseimbangan Alam dan Ketahanan Pangan Perbatasan

Kedaulatan sebuah bangsa berakar dari ketahanan pangannya dan kelestarian alam yang melindunginya dari kehancuran. Di Liang Bunyu, TMMD ke-129 menanamkan modal masa depan dengan membuka lahan ketahanan pangan seluas 5 hektar serta menanam 1.000 pohon mangrove di pesisir pantai bersama 3.000 pohon keras di area darat.

Ekosistem perbatasan semakin diperkaya dengan pelepasan 150 ekor burung endemik ke alam bebas, serta penyebaran bibit ikan lele sebanyak 3.000 ekor dan ikan nila sebanyak 2.000 ekor di kolam-kolam produktif warga.

Langkah pelestarian lingkungan ini menjadi benteng pertahanan alami dari abrasi air laut Selat Sebatik yang perlahan mengikis daratan, sekaligus menjaga keberlangsungan biota laut yang menjadi tempat bersandarnya para nelayan mencari nafkah.

Di sisi lain, program ketahanan pangan dan budidaya ikan air tawar memberikan alternatif sumber pendapatan baru bagi warga agar tidak hanya bergantung pada sektor rumput laut semata. Semua ini dirancang untuk menciptakan ekosistem desa yang mandiri, hijau, dan berdaulat secara ekonomi.

Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) PJO TMMD ke-129 yang dipimpin oleh Brigjen TNI Franky Jan Hardy Watuseke memberikan perhatian khusus pada aspek keberlanjutan lingkungan dan kemandirian pangan ini saat meninjau lokasi. Ia menilai integrasi antara pembangunan fisik dan pelestarian alam adalah kunci pembangunan modern.

"Pembangunan yang dilakukan harus benar-benar berorientasi pada kebutuhan masyarakat perbatasan dan memiliki daya tahan jangka panjang," cetus Brigjen TNI Franky Jan Hardy Watuseke.

Ketua Tim Wasev juga menambahkan bahwa investasi lingkungan seperti penanaman mangrove dan tebar benih ikan ini memiliki nilai ekonomis strategis yang akan dirasakan manfaatnya oleh generasi penerus Liang Bunyu di masa mendatang.

"Proyek infrastruktur di garis batas perbatasan Indonesia-Malaysia ini memiliki peran strategis sebagai perwujudan nyata kehadiran negara demi mendongkrak aktivitas sosial dan ekonomi," tambah jenderal bintang satu tersebut.

 

A group of people in uniform

AI-generated content may be incorrect.

Menabur Benih Pengetahuan dan Mengukuhkan Karakter Bangsa

Pembangunan sejati tidak pernah berhenti pada benda mati; ia harus merengkuh jiwa, pikiran, dan masa depan generasi penerus bangsa.

Melalui sasaran non-fisik, TMMD ke-129 menghadirkan "Kelas Belajar Bersama Ceria" bagi anak-anak perbatasan, menyalurkan 100 paket sembako untuk pencegahan stunting, serta menggelar penyuluhan komprehensif mulai dari bidang pertanian, perkebunan, wawasan kebangsaan (wasbang), hukum, hingga pemeriksaan kesehatan gratis.

Ruang-ruang kelas dan balai desa mendadak riuh oleh diskusi hangat antara pemateri dan warga yang haus akan informasi baru.

Edukasi mengenai bahaya narkoba dan kamtibmas memperkuat benteng pertahanan moral masyarakat dari ancaman kejahatan lintas batas negara. Sementara itu, penyuluhan kesehatan dan gizi menjadi senjata utama dalam memerangi stunting, memastikan balita di Liang Bunyu tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan kompetitif.

Melalui sosialisasi rekrutmen prajurit TNI, para pemuda perbatasan juga dibukakan jalan lebar untuk membaktikan diri menjadi pengawal benteng kedaulatan nusantara di masa depan.

Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri, S.E., sangat mengapresiasi paket lengkap penyuluhan sosial yang diberikan oleh jajaran TNI, Polri, dan instansi terkait selama program ini berjalan. Beliau memandang penguatan karakter ini sebagai modal utama pembangunan daerah.

"Bupati mengajak bagi warga untuk aktif berkolaborasi dengan personel gabungan demi menanamkan rasa memiliki atas hasil pembangunan," ungkap H. Irwan Sabri, S.E., dalam berbagai kesempatan.

A group of soldiers planting a tree

AI-generated content may be incorrect.

Senada dengan hal itu, Danrem 092/Maharajalila, Brigjen TNI Mohammad Sjahroni, S.E., M.Han., mengingatkan bahwa kemandirian sebuah desa perbatasan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Ketahanan non-fisik adalah penentu abadinya kedaulatan di garis perbatasan.

"Keberhasilan program tidak hanya diukur dari selesainya infrastruktur fisik, tetapi dari bangkitnya kemandirian ekonomi dan kokohnya pertahanan masyarakat perbatasan," tegas Danrem menutup pandangannya.

A group of men in military uniforms

AI-generated content may be incorrect.

Kasiter Korem 092/Maharajalila Kolonel Inf Kadir Tangdiesak menyaksikan serah terima berita acara TMMD ke-129 Kodim 0911/Nunukan

TMMD Ke-129 Kodim 0911/Nunukan resmi ditutup melalui upacara penutupan yang berlangsung di Desa Liang Bunyu, Kecamatan Sebatik Barat. Upacara dipimpin Kasiter Korem 092/Maharajalila Kolonel Inf Kadir Tangdiesak.

Kasiter mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Daerah, instansi lintas sektor, serta seluruh lapisan masyarakat Desa Liang Bunyu yang telah bahu-membahu menyukseskan program fisik dan non-fisik TMMD.

Ia menegaskan bahwa kebersamaan selama satu bulan penuh ini merupakan wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat yang harus terus dijaga kokoh guna mengatasi berbagai tantangan pembangunan di wilayah perbatasan.

Diakhir amanatnya ia juga berpesan kuat agar fasilitas yang telah selesai dibangun seperti jalan tani sepanjang 3 kilometer, fasilitas air bersih, serta renovasi rumah ibadah dan RTLH dapat dirawat secara swadaya oleh masyarakat agar memiliki usia pakai yang panjang.

Ketika senja mulai meredup dan sang surya perlahan tenggelam di balik cakrawala Pulau Sebatik, tiang-tiang jemuran rumput laut berdiri tegak laksana saksi bisu dari goresan tinta emas yang telah ditorehkan bersama.

Seragam loreng dan senyum tulus warga kini telah melebur dalam satu ikatan batin yang takkan lekang oleh waktu, menyisakan jejak-jejak kemakmuran yang mengalir bersama jernihnya air sumur baru dan kokohnya jalan tani yang membelah desa.

Di tanah batas Liang Bunyu, cinta tanah air tidak lagi sekadar digaungkan dalam kata, melainkan telah mewujud nyata dalam peluh gotong royong yang menghidupkan lentera harapan, menjaga asa agar tetap menyala abadi di beranda terdepan Indonesia tercinta.