Empat Istri Korban Penipuan Kerja Scammer di Kamboja, Lapor ke Polda Bengkulu
Bengkulu, Wartaprima.com – Empat istri warga Kota Bengkulu yang diduga menjadi korban penipuan kerja jaringan scammer di Kamboja resmi melaporkan kasus tersebut ke Polda Bengkulu, Kamis (5/2/2026).
Didampingi kuasa hukum mereka, Dede Frastein, keempat perempuan tersebut mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Bengkulu untuk membuat laporan pengaduan sekaligus memberikan keterangan awal kepada penyidik.
Dede Frastein menjelaskan, para korban sebelumnya dijanjikan pekerjaan sebagai marketing elektronik di Vietnam. Namun setelah diberangkatkan, para korban justru dibawa ke Kamboja dan dipaksa bekerja sebagai scammer.
“Kami mendampingi para istri korban yang suaminya ditipu dengan iming-iming kerja di Vietnam. Faktanya, mereka dibawa ke Kamboja dan dipaksa menjadi scammer. Hari ini laporan resmi sudah kami sampaikan dan para pelapor telah dimintai keterangan oleh penyidik,” ujar Dede.
Ia mengapresiasi respons cepat Ditreskrimum Polda Bengkulu dalam menerima laporan tersebut dan menindaklanjutinya.
“Kami mengapresiasi gerak cepat Polda Bengkulu. Proses pelaporan berjalan baik dan para pelapor dilayani dengan profesional,” katanya.
Selain itu, Dede juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan perhatian dan bantuan, termasuk Pemerintah Provinsi Bengkulu, DPRD Provinsi Bengkulu, serta Baznas, yang terus mengupayakan kepulangan para korban dari luar negeri.
“Saat ini para suami para pelapor masih berada di KBRI Phnom Penh, Kamboja. Kami berharap upaya-upaya yang dilakukan berbagai pihak dapat segera membuahkan hasil sehingga para korban bisa kembali ke tanah air,” tambahnya.
Dede menegaskan pihaknya akan terus mengawal proses hukum kasus ini hingga para korban mendapatkan keadilan.
Sebelumnya diberitakan, empat warga Kota Bengkulu diduga menjadi korban penipuan kerja jaringan scammer yang berkaitan dengan praktik judi online di Kamboja. Selama bekerja, para korban disebut mengalami kekerasan, penyiksaan berupa setrum listrik, serta kekurangan makanan, sebelum akhirnya berhasil melarikan diri dan meminta perlindungan ke KBRI di Phnom Penh.
Keempat korban tersebut diketahui bernama Ardi, Deni Febriansyah, Imron, dan Engga. Saat ini, Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama DPRD dan Baznas tengah berupaya memfasilitasi pemulangan mereka ke Bengkulu.
