Dekapan Kasih Satgas TMMD, RobohkanDinding Prasangka di Papua
Oleh: Maryono
TNI bukan sosok yang menakutkan tapi menghadirkan kebahagiaan
Karya ini tidak lahir dari barisan kalimat yang dirangkai untuksekadar mempercantik halaman media. Bukan pula lahir dariimajinasi liar seorang penulis yang gemar merangkai dongengpengantar tidur. Di atas tanah ini, di bawah langit Papua yang biru pekat, yang tertulis adalah sebuah realita. Sebuah potrettentang bagaimana masyarakat di daerah yang selama ini jauhdari sentuhan pembangunan, akhirnya merasakan kehadirannegara secara nyata.
Ini adalah kesaksian dari garis depan sebuah perubahan.
Retaknya Dinding Prasangka
Pagi itu, 22 April 2026, Kampung Tanah Rubuh di DistrikManokwari Timur, Kabupaten Manokwari, masih diselimutikabut tebal yang enggan beranjak dari pucuk-pucuk pohonmatoa. Wilayah 3T ini telah lama hidup dalam kesunyian yang dingin, terisolasi oleh jalan setapak yang dipenuhi batu tajamdan kubangan lumpur pekat yang siap memenjarakan siapasaja yang melintas setiap kali hujan turun. Indonesia teramatluas, dan selama ini, Tanah Rubuh seolah menjadi sudut yang terlupakan dalam riuhnya pembangunan.
Lalu, keheningan rimba itu pecah. Raungan mesin truk-trukbesar milik TNI membelah belantara. Pasukan Satgas TMMD Ke-128 dari Kodim 1801/Manokwari datang menembus batas isolasi.
Dari balik celah dinding gubuk panggung yang rapuh, mata-mata warga mengintip dengan tatapan yang diselimuti kabutkecurigaan. Ada sebuah narasi miring yang bertahun-tahundiembuskan oleh angin luar sebuah prasangka purba yang mengatakan bahwa seragam loreng adalah lambangketegangan, jarak, dan moncong senjata yang mengancam.
Namun, ketika roda-roda truk berhenti dan para prajurit ituturun dengan senyum lepas yang tulus, dinding tak kasat mataitu mendadak runtuh.
Tangisan kebahagian Mama dengan kahadiran Satgas TNI ke Kampung mereka
Di tengah keriuhan itu, seorang Mama tua berdiri termangu. Kulit wajahnya legam dan berkerut, menceritakan betapakerasnya kehidupan yang ia pikul selama puluhan tahun tanpasentuhan negara. Ketika salah seorang prajurit melangkahmendekat, membungkuk pelan dengan sorot mata yang teramat teduh seraya mengulurkan tangan, tubuh Mama itubergetar.
Ia tidak mampu bersuara. Lidahnya kelu. Namun, bendungandi matanya pecah. Air mata haru meluncur deras, membasahipipinya yang gersang. Jabat tangan itu bukan sekadarformalitas bagi sang Mama, itu adalah pelukan hangat dari Ibu Pertiwi yang membisikkan kata: “Kalian tidak lagi sendiri.”
Menghancurkan Batu, Memahat Harapan
Letkol Inf Davit Sutrisno Sirait, S.E., Dansatgas Kodim 1801/Manowaribahu membahu Bersama prajurit
Hari itu, di bawah saksi langit Manokwari, sebuah sinergiagung diikrarkan. Bupati Manokwari, Hermus Indou, yang hadir dalam upacara pembukaan menegaskan bahwakolaborasi antara pemerintah daerah dan TNI adalah palugada yang akan menghancurkan tembok keterisolasian. Di garda terdepan, berdiri Letkol Inf Davit Sutrisno Sirait, S.E., sang Dansatgas yang memimpin barisan. Ia datang bukanuntuk memamerkan kuasa tongkat komando, melainkanmembawa detak cinta yang nyata.
"TMMD ini bukan sekadar urusan semen, batu, dan angka-angka laporan. Ini adalah bukti bahwa negara hadir untukmemeluk erat mereka yang berada di ujung beranda," ucapLetkol Inf Davit, suaranya bergetar penuh komitmen.
Sejak hari itu, fajar di Tanah Rubuh berubah menjadi simfonigotong royong yang membakar semangat. Warga kampung menolak menjadi penonton pasif atas perubahan tanah leluhurmereka. Atas inisiatif sendiri, laki-laki memegang parang, perempuan menggendong keranjang, bahu-membahu bersamapara prajurit.
Semak belukar liar yang selama puluhan tahun menjajah dan menutup sisi jalan kini dibabat habis tanpa sisa. Uniknya, ruang-ruang kosong bekas belantara itu kini beralih rupa; berjejer rapi tiang-tiang bambu dengan kibaran kain Merah Putih yang menari gagah ditiup angin laut. Kehadiran warnafajar di tepi jalan itu seolah menjadi ungkapan rasa terimakasih yang bisu namun mendalam dari sanubari warga, sebuahproklamasi kecil bahwa hari ini, negara benar-benar telahhadir dan memeluk mereka.
Pembukaan jalan dan cor beton sepanjang 600 meter
Sasaran utama mereka adalah sebuah jalan setapak menujulaut urat nadi bagi para nelayan setempat untuk menyambunghidup. Dulu, jalan itu adalah siksaan berupa lumpur becekyang kerap membuat warga tergelincir. Kini, di bawahsiraman peluh yang menyatu antara peluh rakyat dan tentara, jalan setapak itu lenyap. Di atasnya, terbentang jalan corbeton sepanjang 600 meter dengan lebar 3 meter yang berdiridengan gagah.
Bagi orang-orang di Jakarta atau bahkan di pusat kotaManokwari, jalan sepanjang 600 meter dengan lebar tigameter mungkin hanya setara dengan jarak mengantre kopi di pagi hari. Namun di Tanah Rubuh, angka itu adalah bentangannapas kehidupan yang mengubah takdir. Jalan beton menujulaut yang kini dibingkai oleh kibaran Merah Putih ini adalahjembatan peradaban baru yang memangkas jarak, mempercepat denyut ekonomi, dan menuntun langkah kaki anak-anak kampung menuju masa depan tanpa perlu takuttergelincir lagi.
Mengubah Wajah Kampung di Bawah Langit Papua
Sentuhan kemanunggalan merambat cepat, mengetuk satudemi satu pintu rumah dan fasilitas umum di Kampung Tanah Rubuh. Ketukan palu, deru gergaji, dan aroma semen basahmenjadi saksi bisu transformasi fisik yang terukur dan nyatadi lapangan:
• Pondasi Jiwa yang Kokoh: Empat unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dulunya nyaris roboh dideruangin malam, kini dibangun kembali dengan dindingyang kuat dan atap yang rapat, mengembalikan martabatkemanusiaan penghuninya.
• Teduhnya Tempat Ibadah: Gereja kampung yang mulanya kusam direhabilitasi total, memberikan ruangsuci yang lebih khusyuk bagi jemaat untuk melantunkanpuji-pujian kepada Sang Cinta.
• Kemandirian Pangan: Dua hektar lahan baru dibuka daricengkeraman hutan liar, siap diolah menjadi lumbung pangan lokal agar dapur warga tak lagi diderakecemasan.
Tak berhenti di situ, Program Unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) ditumpahkan bagai air bah yang menyegarkandahaga pembangunan. Bangunan SD Inpres 62 Asai yang telah lama usang, kini diperbaiki dan dicat ulang denganwarna yang cerah. Di dalam ruang-ruang kelas itulah, mimpianak-anak Papua kembali dinyalakan. Lima unit MCK komunal dibangun demi menegakkan sanitasi yang sehat dan higienis.
Keceriaan anak-anak bermain air di salah satu titik pembangunanTMAB
Lalu, sebuah masalah purba yang mencekik kampung iniakhirnya diselesaikan: krisis air bersih. Melalui program TNI Manunggal Air Bersih (TMAB), sebuah bak penampunganraksasa dibangun, lengkap dengan sistem pipanisasi yang menjangkau enam titik krusial. Air jernih yang dingin kinimengalir langsung di dekat rumah mereka, menyudahipenderitaan para ibu yang dulu harus berjalan berkilo-kilometer memikul jeriken demi seteguk air.
Bahkan, demi masa depan ekonomi hijau yang berkelanjutan, 2.000 bibit pohon kakao (KKO) ditanam di pekarangan rumahwarga, bersiap untuk tumbuh menjadi saksi kemakmuran di masa mendatang.
Merawat Pikiran, Menyembuhkan Jiwa
Namun, Letkol Inf Davit Sirait dan pasukannya paham betulbahwa membangun sebuah peradaban tidak boleh berhentipada benda mati yang kasat mata. Jiwa, pikiran, dan raga manusia Tanah Rubuh harus ikut dirawat dan dipulihkan dariketertinggalan.
Ketika malam turun membungkus kampung atau saatmatahari tepat berada di atas kepala, balai-balai pertemuanyang sederhana disulap menjadi ruang kelas raksasa yang hidup. Di sinilah batin masyarakat ditempa. Prajurit TNI bersama jajaran Polres Manokwari duduk bersila di atas tikar, membaur tanpa sekat bersama warga.
Materi Penyuluhan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara disampaikan dengan dialog yang menyentuh hati, menyalakankembali api nasionalisme bahwa mereka adalah bagian takterpisahkan dari NKRI. Benteng masa depan pemuda kampung diperkuat melalui penyuluhan Kamtibmas dan edukasi tentang bahaya laten narkoba.
Penyuluhan yang menjadi salah satu sasaran kegiatan non fisik
Sektor kesehatan dan lingkungan pun digempur habis-habisan. Ibu-ibu kampung berkumpul dengan antusias untukmendapatkan Penyuluhan Keluarga Berencana (KB) sekaligusPelayanan KB gratis berupa pemasangan IUD dan Implant. Masalah krusial seperti penanganan dan pencegahan stunting dibahas secara mendalam demi menyelamatkan generasi emasPapua. Tak ketinggalan, edukasi kebencanaan, simulasipenanganan bahaya kebakaran, hingga materi pengolahansampah diberikan agar warga memiliki pengetahuan yang mandiri untuk menjaga lingkungan mereka tetap bersih dan aman.
Tatapan Sang Pengawas yang Melembut
Kolonel Inf Sambas, S.A.P. Tim Wasev saat tinjau salah satu sasarankegiatan TMMD
Di saat deru pembangunan fisik dan non-fisik kian mendekatipuncaknya, sebuah riak penting kembali mewarnai jalannyasejarah di Kampung Tanah Rubuh. Sebuah rombonganpenting mendarat di lokasi mereka adalah Tim Pengawasandan Evaluasi (Wasev) Mabesad yang diutus langsung daripusat untuk menguji kelayakan dan ketulusan kinerja di lapangan.
Rombongan tersebut dipimpin oleh Kolonel Inf Sambas, S.A.P.
Sebagai seorang perwira dengan rekam jejak panjang, Kolonel Inf Sambas dikenal memiliki tatapan mata yang tajam dan analitis. Namun, begitu kakinya melangkah di atas tanahmerah kampung ini, sorot mata yang tegas itu perlahanmelembut. Beliau menolak untuk sekadar duduk di balik mejaadministratif yang nyaman atau sekadar membaca lembaranlaporan formalitas yang dihiasi angka-angka sempurna. Baginya, kebenaran sejati hanya bisa diukur denganmenyentuh realita secara langsung.
Dengan langkah tegap di bawah terik matahari, Kolonel Inf Sambas berjalan menyusuri setiap jengkal jalan betonsepanjang 600 meter yang kini mengilap, mengetuk tiang-tiang kokoh rumah RTLH yang baru selesai dibangun, dan menguji sendiri aliran air jernih dari bak TMAB.
Namun, di atas semua pemeriksaan fisik tersebut, instingseorang perwira tinggi militer miliknya menangkap sesuatuyang jauh lebih bernilai dari sekadar adukan semen: beliaumelihat ketulusan yang murni dari senyuman warga, jabattangan erat tanpa kepura-puraan dari para tetua adat, dan kedekatan emosional yang telah terjalin dalam antara prajuritdan masyarakat lokal. Di sana, Kolonel Inf Sambas menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwakemanunggalan yang dilaporkan ke Jakarta bukanlah fiksiilmiah, melainkan sebuah denyut nadi kehidupan yang nyatadan jujur.
Senjata Kayu dan Tawa yang Mengangkasa
Kebersamaan dan keceriaan anggota satgas TMMD bersama anak-anak
Sore itu, langit di ufuk barat Distrik Manokwari Timur mulaimelukis semburat jingga keemasan. Lelahnya pekerjaan fisikhari itu menguap begitu saja ketika sebuah pemandangan di pelataran gereja yang baru direhabilitasi memaksa waktuseolah berhenti berputar.
"Dor... dor... dor!"
Suara itu bukan lahir dari letusan amunisi senapan yang membawa duka, melainkan sebuah desing riang yang meluncur bebas dari mulut mungil anak-anak Kampung Tanah Rubuh yang sedang mengembangkan senyuman lebar. Mereka berlarian dengan kaki telanjang di atas tanah rata yang kini mulai bersih dari semak belukar.
Wajah-wajah hitam manis itu berbinar jernih, rambut-rambutkeriting kecil mereka bergoyang mengikuti langkah lari yang lincah, dan dari bibir mereka menyeruak tawa paling lepasyang pernah terdengar di distrik tersebut. Di tangan-tanganmungil mereka, tergenggam erat senapan mainan yang diukirdengan sangat rapi menggunakan bilah-bilah kayu sisabangunan. Senjata kayu itu adalah buah tangan yang dibuatpenuh kasih oleh para prajurit Satgas TMMD di sela-sela waktu istirahat mereka yang singkat.
Anak-anak itu berlarian membidik langit khayalan, lalumenjatuhkan diri penuh tawa dalam pelukan hangat para prajurit yang sedang melepas lelah di bawah pohon matoa. Di titik inilah, kemanunggalan antara TNI dan rakyat Papua mencapai puncaknya yang paling paripurna. Kedekatan itubegitu nyata, mengalir tanpa sekat protokoler birokrasi, dan bergerak tanpa kepura-puraan di depan lensa kamera.
Suara dor... dor... dor di Tanah Rubuh hari ini bukan lagipenanda marabahaya, konflik, atau air mata penderitaan. Suara itu telah bertransformasi menjadi simbol bahwaketakutan purba telah lebur menjadi jalinan kasih yang jernih. Di sela-sela riuhnya tawa anak-anak yang mengangkasamembelah langit sore, potret sebuah masa depan baru kianterlukis dalam setiap sudut kehidupan kampung, mengalirbersama cerita-cerita tentang cinta yang terus bergulir dan memahat lembaran sejarah baru di atas tanah Papua.
Puncak Kebahagiaan di Ujung Manokwari
Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI Christian Kurnianto TehuteruBersama Wakil Bupati Manokwari H. Mugiono, S.Hut., M.Ling., saathadiri upacara penutupan kegiatan TMMD Ke 128 Kodim1801/Manowari
Cerita tentang cinta yang bersemi di Tanah Rubuh itumencapai puncaknya dalam sebuah penutup yang luar biasa. Kehadiran Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru bersama Ny. Mevi Christian Tehuteru, serta dampingan dari Wakil Bupati Manokwari H. Mugiono, S.Hut., M.Ling., menjadi babak monumental yang menyempurnakan seluruh jalinan sejarah perubahan ini.
Tidak ada sekat formalitas yang kaku. Di bawah langitManokwari, sang Pangdam dan Wakil Bupati melangkahbersama, menyapa, dan memeluk warga. Kehadiran dua pimpinan ini menegaskan bahwa sinergi antara TNI dan Pemerintah Daerah adalah fondasi utama pembangunanPapua.
Di hadapan warga yang berkumpul riuh, Mayjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru menyampaikan pesanmendalam yang menggetarkan batin.
"Melihat binar bahagia di wajah bapak, mama, dan anak-anakdi sini, saya tahu tugas kemanusiaan kita telah menyentuhtujuannya. TMMD bukan sekadar membangun semen, batu, atau infrastruktur fisik semata. Lebih dari itu, ini adalahtentang merajut kembali rasa persaudaraan yang utuh dan memastikan tidak ada sejengkal pun tanah di ujungManokwari ini yang merasa berjalan sendirian," tegas sang Pangdam, matanya menatap hangat deretan bendera yang berkibar.
Sinergi yang kokoh itu diamini dengan penuh apresiasi oleh Wakil Bupati Manokwari, H. Mugiono. Bagi pemerintahdaerah, kolaborasi akseleratif seperti ini adalah berkah nyatabagi masyarakat.
"Pemerintah daerah memiliki keterbatasan jangkauan, namunkehadiran TNI melalui instrumen TMMD adalah jawabannyata atas jeritan hati warga. Apa yang kita saksikan hari inidi Tanah Rubuh adalah bukti abadi; bahwa ketika pemerintah, TNI, dan rakyat melebur menjadi satu kekuatan, maka tembokisolasi dan ketertinggalan setebal apa pun pasti akan runtuh," tutur H. Mugiono penuh penekanan.
Kebahagiaan tampak jelas di wajah warga. Kerutan lelah para tetua adat kini berganti menjadi binar tawa yang lepas. Mereka tidak hanya merayakan selesainya pembangunanfisik, mereka sedang merayakan hadirnya kembali negara yang memeluk mereka dengan segenap jiwa.
Ketika Senjata Kalah oleh Cinta
Isak tangis saat satgas TMMD berpamitan
Namun, di balik riuh kebahagiaan pesta adat itu, momenperpisahan yang tak terelakkan akhirnya tiba juga. Hari berganti, dan pasukan Satgas TMMD harus mengemas ransel mereka untuk kembali ke kesatuan.
Air mata kembali mengalir, menggenang di sudut mataseorang anak kecil yang berdiri diam di tepi jalan beton yang kini kokoh. Di dekapannya, ia memeluk erat senapan mainandari bilah kayu hadiah kecil yang tempo hari diraut denganpenuh kasih oleh jemari kekar seorang prajurit di sela waktulelahnya. Bagi anak kecil itu, mainan kayu tersebut kini bukanlagi sekadar alat bermain, melainkan sebongkah memoritentang kakak-kakak berorganisasi loreng yang telahmengubah dunianya.
Ia tahu, sang pembuat mainan harus pergi. Tangan mungil sianak bergantian mencengkeram ujung seragam loreng prajurityang membungkuk di depannya untuk berpamitan, seolahmenolak sebuah perpisahan yang terlalu cepat datang. Air mata anak itu menetes pasrah, membasahi kayu mainannya.
Di ujung penugasan ini, senapan-senapan mainan di pelukananak-anak Papua tak akan pernah lagi menemukan sasaranmiring prasangka. Sebab, senjata terbaik untuk memenangkanhati rakyat telah lama dilepaskan, digantikan oleh dekapanhangat kedamaian. Perang melawan keterisolasian di ujungManokwari ini telah dimenangkan secara mutlak bukandengan desing peluru panas, melainkan oleh ketulusan yang luhur.
Isak tangis anak kecil yang enggan ditinggal pergi bersamasenapan kayunya adalah bukti sahih yang paling jujur; bahwaini bukanlah rekayasa atau skenario indah di atas kertas, melainkan hati yang saling berbicara. Sebuah jalinan cintayang begitu murni, yang kini membubung tinggi ke angkasaManokwari, meninggalkan jejak air mata haru yang teramatindah dan abadi di Tanah Rubuh.
