Semangat Tak Kenal Usia, Kisah Inspiratif dari TMMD Reguler ke-120 di Desa Sijenggung
Desa Sijenggung, sebuah nama yang kini terukir dalam sejarah dengan sentuhan emas dari semangat tak kenal usia. Di balik kemegahan pegunungan Jawa Tengah, terdapat kisah inspiratif dari generasi yang tak lagi muda, namun semangatnya membara seperti bara api yang tak pernah pudar.
Pada Selasa (14/05/2024), pembangunan jalan di Desa Sijenggung tidak hanya menjadi kegiatan fisik semata. Di balik setiap corak beton yang mengisi 806 meter jalan, terdapat semangat juang yang terpancar dari para warga, terutama dari sosok-sosok yang usianya telah melewati angka 70 tahun. Mereka adalah Mbah Marno dan Mbah Bariah, dua pahlawan tak dikenal dari sudut-sudut desa yang jauh dari pusat peradaban.
Kisah Mbah Marno, seorang kakek berusia 80 tahun, menarik perhatian banyak orang. Usia yang telah mengukir berbagai cerita, namun semangatnya masih sama muda dengan pepohonan yang menghiasi desa. Dalam kegiatan yang dilakukan oleh Satgas TMMD Reguler ke-120 yang digelar oleh Kodim 0704/Banjarnegara, Mbah Marno tak hanya sekadar berada di pinggir lapangan, melainkan turut serta menyumbangkan tenaga dalam pembangunan jalan. Meski otot-ototnya sudah kendur dan tenaganya berkurang, semangatnya tidak padam. Baginya, keikutsertaannya adalah wujud syukur atas pembangunan di desanya di usia senjanya.
"Terkadang, semangat itu tidak mengenal usia. Mungkin jalan ini hanya seutas benang dalam kisah hidup saya, namun bagi saya, ini adalah bagian dari sejarah perjuangan rakyat Indonesia," ujar Mbah Marno dengan mata yang penuh dengan kebanggaan.
Menanggapi semangat Mbah Marno, anggota Satgas TMMD Kodim 0704/Banjarnegara, menyatakan, "Sampun mboten sah Mbah mengke kesel." Meskipun telah dilarang untuk berkontribusi karena mempertimbangkan usia dan kondisi fisik mereka, namun semangat mereka tetap membara.

Tidak kalah menginspirasi, sosok Mbah Bariah, seorang nenek berusia 75 tahun, juga turut meramaikan semangat pembangunan jalan. Dengan tekad yang kuat dan hati yang penuh dengan keikhlasan, ia mengangkat karung demi karung pasir, membantu para lelaki di desanya. Baginya, usia dan jenis kelamin bukanlah penghalang untuk berkontribusi dalam membangun desa untuk anak dan cucunya.
"Sisa umur saya akan saya gunakan untuk ibadah, jalan ini kan nanti buat anak cucu saya," tutur Mbah Bariah dengan logat ngapak yang kental.
Dibalik keinginannya untuk berkontribusi, terdapat kehidupan sederhana yang mungkin menjadi rahasia dari kekuatan fisiknya. Desa Sijenggung yang terletak di ketinggian, memberikan akses alami untuk makanan dan sayuran segar. Dengan begitu, pola makan alami telah menjadi kunci dari kesehatan fisiknya yang terjaga meski usianya sudah senja.
Tidak hanya menjadi saksi, Serma Darminto, anggota Satgas TMMD Kodim 0704/Banjarnegara, turut tergerak oleh semangat tak kenal usia dari para warga lanjut usia tersebut. “Nggih Mbah, ngatos-atos nggih Mbah,” ungkap Darminto.
Tindakan nyata dari Mbah Marno, Mbah Bariah, dan warga lanjut usia lainnya di Desa Sijenggung tidak hanya sekadar pekerjaan fisik. Mereka adalah simbol kegigihan, keikhlasan, dan semangat juang yang menjadi pendorong bagi proyek pembangunan tersebut.
TMMD Reguler ke-120 di Desa Sijenggung telah menyentuh hampir setiap lapisan masyarakatnya, tidak terkecuali para lansia yang masih memiliki semangat membara untuk berkontribusi dalam membangun masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang. Semangat mereka adalah kilauan harapan yang tak terpadamkan, membakar semangat bagi siapa pun yang bersedia mendengarnya.
Dalam kesederhanaan dan ketulusan mereka, terselip pesan yang menggema: bahwa semangat tak kenal usia adalah sumber kekuatan yang tak terbatas, dan bahwa usia hanyalah angka jika dibandingkan dengan keberanian dan tekad yang terkandung di dalam hati. Desa Sijenggung, dengan segala keunikan dan cerita di baliknya, telah menjadi cermin bagi kita semua bahwa semangat juang dapat hadir dari siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.
