Skip to main content
x
Membanggakan, Istiqomah Katin, Putri Asal Bengkulu Lulus Dokter Spesialis Termuda di UGM

Membanggakan, Istiqomah Katin, Putri Asal Bengkulu Lulus Dokter Spesialis Termuda di UGM


 

Bengkulu - Universitas Gadjah Mada menggelar Wisuda Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 pada 22–23 April 2026. Sebanyak 1.638 lulusan resmi diwisuda, terdiri atas 1.388 magister (S2), 83 spesialis, 21 subspesialis, dan 146 doktor (S3).

Salah satu sosok yang mencuri perhatian dalam prosesi tersebut adalah dr. Istiqomah Katin, Sp.A., yang dinobatkan sebagai lulusan termuda dari program spesialis dengan usia 28 tahun 6 bulan. Usianya jauh di bawah rerata lulusan spesialis pada periode ini yang mencapai 34 tahun 5 bulan.

Perempuan yang akrab disapa Isti ini merupakan putri asal Bengkulu dan anak pertama dalam keluarganya. Ia dikenal memiliki rekam jejak pendidikan yang konsisten sejak usia muda dengan mengikuti program akselerasi saat SMP dan SMA, sebelum melanjutkan pendidikan dokter hingga lulus pada 2019.

Setelah sempat bekerja sebagai dokter umum sekaligus dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Bengkulu, Isti memutuskan melanjutkan pendidikan dokter spesialis Ilmu Kesehatan Anak di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM pada 2022.

Ketertarikannya pada bidang kesehatan anak telah tumbuh sejak awal, sekaligus didorong oleh kebutuhan tenaga dokter spesialis anak di daerah asalnya. Selama menjalani pendidikan, ia mengikuti program double degree dengan fokus penelitian di bidang Neonatologi, khususnya terkait hiperbilirubinemia pada neonatus.

Meski meraih predikat sebagai lulusan termuda, Isti mengaku tidak pernah menjadikannya sebagai target utama. “Saya tidak menyangka bisa menjadi lulusan termuda di periode ini, dan dari awal juga tidak pernah menargetkan ke arah sana. Berusaha konsisten saja di tiap prosesnya,” ujarnya.

Ia menuturkan bahwa pendidikan spesialis merupakan proses panjang dengan tuntutan akademik dan tanggung jawab klinis yang tinggi. Selain itu, perbedaan lingkungan dan budaya antara Bengkulu dan Yogyakarta juga menjadi tantangan tersendiri di awal masa studi.

Menurutnya, dukungan dari keluarga, teman sejawat, dan para supervisor menjadi faktor penting dalam menyelesaikan pendidikan tersebut.

Isti juga berpesan kepada mahasiswa agar menjaga konsistensi dan niat selama menempuh pendidikan. Ia menekankan bahwa tidak perlu berambisi menjadi yang tercepat, melainkan fokus menjalani setiap tahapan dengan maksimal.

“Semoga ilmu yang didapat bisa benar-benar bermanfaat dan memberikan dampak positif, di mana pun kita berada dan berkarya,” tutupnya.