Mengabdi di Ujung Negeri: Cerita Haru dari Desa Perbatasan
Oleh : Letkol Arh Andi Yunus, S.I.P. ( Dansatgas Kodim 1605/Belu )

Aku masih ingat jelas ketika perintah itu datang Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, ditetapkan sebagai lokasi sasaran TMMD ke-125. Sebuah desa di perbatasan, dengan kondisi jalan yang masih terbatas, drainase yang belum memadai, dan banyak rumah warga yang membutuhkan perbaikan.
Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di sana, pandanganku tertuju pada jalan tanah yang memanjang dengan debu beterbangan. Anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki, sementara warga membawa hasil panen di punggung mereka. Saat itulah aku sadar, bukan sekadar pembangunan yang kami emban, melainkan amanah untuk menghadirkan perubahan.
Semangat di Bawah Terik Matahari
Gotong royong bersama warga
Hari-hari awal terasa seperti ujian. Matahari Belu bagaikan bara yang ditumpahkan ke bumi. Panasnya menembus topi rimba, membakar kulit, memeras keringat sampai titik terakhir.
Namun setiap kali aku hampir merasa lelah, pandangan mataku tertuju pada prajurit yang terus mengayun cangkul, atau warga yang datang dengan wajah penuh ikhlas. Ada seorang bapak tua mungkin usianya lebih dari lima puluh tahun membawa batu di kedua tangannya. Tangannya gemetar, tapi ia tersenyum ketika menyerahkannya pada anggota satgas.
Aku menghampirinya.
“Pak, istirahat dulu. Biar kami yang lanjut.”
Ia menggeleng pelan. “Tidak, Komandan. Jalan ini juga jalan saya. Kalau saya berhenti, saya merasa berutang.”
Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras dari panas matahari.
Gotong Royong yang Hidup Kembali
Excavator meratakan timbunan jalan
Hari demi hari, pemandangan itu selalu sama, namun tak pernah membosankan. Prajurit dan rakyat menyatu, tanpa sekat, tanpa pangkat. Drainase perlahan terbentuk, rabat beton sepanjang 380 meter tersusun di sisi jalan. Excavator meraung membuka jalan baru sepanjang 625 meter, sementara suara tawa warga berpadu dengan deru mesin.
Para ibu membawa air dan makanan seadanya. Anak-anak berlari-lari, sesekali membantu mengumpulkan batu kecil, seakan ingin ikut serta dalam pekerjaan orang dewasa. Aku melihat di mata mereka ada sesuatu yang jarang kutemui harapan.
Menjaga Lebih dari Sekadar Infrastruktur
Proses pembuatan drainase
TMMD bukan hanya soal jalan atau drainase. Kami juga membangun satu titik sumur bor, merenovasi rumah tidak layak huni, dan mengadakan berbagai penyuluhan tentang kesehatan, pertanian, hingga wawasan kebangsaan. Semua itu adalah bagian dari membangun manusia, bukan hanya bangunan.
Aku percaya, apa yang kami tinggalkan di Desa Naekasa bukan hanya infrastruktur, tapi juga kesadaran baru bahwa perubahan hanya lahir jika rakyat bersatu.
Hari Penutupan yang Mengharukan
Penyerahan naskah TMMD Ke 125 Kodim 1605/Belu
Hari berganti cepat. Sebulan penuh kami hidup bersama rakyat. Setiap malam aku mencatat progres, memastikan tidak ada yang tertinggal. Hingga akhirnya, semua sasaran rampung. Jalan terbuka, drainase rapi, rumah berdiri lebih kokoh, dan sumur memancarkan air jernih.
Aku tahu, saat itu juga berarti perpisahan mulai mendekat. Ada rasa lega, tapi juga rasa kehilangan.
Langit pagi tampak cerah ketika upacara penutupan dimulai. Lapangan desa penuh sesak warga berkumpul, anak-anak berdiri berderet, para prajurit berbaris gagah. Bendera merah putih berkibar di bawah tiupan angin, seolah ikut menyaksikan sejarah kecil yang tercipta di desa perbatasan ini.
Danrem 161/Wira Sakti, Kolonel Inf. Hendro Cahyono, hadir memimpin langsung penutupan. Suaranya tegas saat menyampaikan sambutan, namun hangat ketika berbicara tentang rakyat.
Aku berdiri di samping beliau, menatap wajah warga yang berseri-seri. Ada bapak tua yang dulu kulihat mengangkat batu, ada ibu muda dengan anaknya yang kini tersenyum lega, ada anak-anak yang melambaikan tangan ke arah kami.
Seketika hatiku dipenuhi rasa haru. Semua peluh, semua lelah, terbayar lunas.
Jejak yang Tertinggal
Setelah upacara usai, Danrem menepuk bahuku. “Kerja bagus, tapi yang lebih berharga dari semua ini adalah kebersamaan yang telah kau tanam.”
Aku hanya bisa mengangguk. Kata-kata itu mengikat hatiku lebih kuat daripada medali apa pun.
Kini, ketika aku menoleh ke belakang, aku tidak hanya melihat jalan baru, drainase, atau rumah yang lebih layak. Aku melihat wajah rakyat yang percaya, prajurit yang setia, dan kebersamaan yang tak ternilai.
Di Desa Naekasa, aku belajar bahwa semangat sejati tidak lahir dari perintah, melainkan dari hati yang ikhlas. Dan itulah yang akan selalu kuingat, selama aku mengabdi pada negeri ini.
Aku belajar satu hal di Desa Naekasa Semangat sejati tidak lahir dari perintah, melainkan dari hati yang ikhlas. Dan di sana, aku menemukannya dalam wajah prajuritku dan rakyat yang kucintai.
