Tim FKIP UNIB Gagas Optimalisasi TPS3R Kepahiang Melalui Pelatihan Budidaya Maggot, Pembuatan Eco-Enzym dan Pupuk Kompos
Kepahiang - Bertempat di TPS3R Desa Bandung Jaya, Kecamatan Kabawetan, pada Jum’at 9 Agustus 2024 dan TPS3R Desa Cugung Lalang Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, sabtu 10 Agustus 2024 berlangsung program pengabdian masyarakat oleh tim Pengabdian FKIP Universitas Bengkulu (UNIB). Pengabdian ini dilakukan oleh 3 Dosen dan 4 Mahasiswa yang bermitra dengan Pemerintahan Daerah (Pemda) Kabupaten Kepahiang dalam hal ini adalah Dinas Lingkungan Hidup. Kegiatan pengabdian berupa pemberdayaan masyarakat dan optimalisasi TPS3R dalam menyelesaikan sampah di Kabawetan Kepahiang melalui pelatihan budidaya maggot, pembuatan eco-enzym dan pupuk kompos.
Kegiatan tersebut merupakan inovasi dari tim pengabdian Universitas Bengkulu dengan dana hibah DRTPM Kemendikbudristek tahun 2024. Sasaran program pengabdian masyarakat dengan partisipasi mitra dalam pelaksanaan program berjumlah 35 orang, meliputi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Lingkungan bersih Desa Cugung Lalang terdiri dari 12 anggota, Kelompok Pemanfaatan dan Pemeliharaan (KPP) Desa Bandung Jaya terdiri dari 10 anggota, serta Pengurus Program Bank Sampah Dasomas terdiri dari 13 anggota.
Belum aktifnya TPS3R di Kabupaten Kepahiang tepatnya di Desa Cugung Lalang dan Desa Bandung Jaya disebabkan karena minimnya keterampilan para pengelola dan belum memadainya prasarana yang tersedia. Oleh sebab itu, pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengatasi tidak aktifnya kelompok dan melatih keterampilan dengan memberikan contoh (modelling) pengelolaan sampah organik kepada kelompok pengelola sampah TPS3R, sekaligus memberikan saranan untuk memulai aktivitas pengolahan.
Pada saat sebelum memulai kegiatan tim melakukan wawancara dengan kelompok pengelola sampah TPS3R, hasilnya menunjukkan bahwa mereka belum memahami teknik pengelolaan sampah selain memilah sampah plastik untuk dijual dan pembuatan kompos sederhana. Walaupun kelompok memahami tentang aktivitas pembuatan kompos secara sederhana, namun belum dapat mengembangkan secara luas karena tidak memiliki akses ke pemasaran. Kelompok juga belum memahami bentuk konversi sampah yang lain seperti pembuatan eco-enzyme, budidaya maggot, POC (kering dan basah), paving block, maupun ecobrick. Kelompok pernah mendengar tentang usaha budidaya maggot dan mengetahui bahwa maggot memiliki nilai pasar yang tinggi di Kabupaten Kepahiang sebagai pakan unggas dan ikan. Namun demikian, kelompok belum mengenal lebih jauh prospek dan detail kegiatan budidaya magot.
Pembukaan kegiatan pengabdian langsung dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepahiang, Swifanedi Yusda, S.Hut dan Dekan FKIP Universitas Bengkulu yang sekaligus sebagai ketua kegiatan pengabdian, Abdul Rahman, PhD. Kegiatan pembukaan ini juga dihadiri Kepala bidang kebersihan, pertamanan dan pengelolaan sampah Kabupaten kepahiang (Tris Wahyudi, M. Si), Camat Kabawetan (Yunanto Budi Nugroho, S. Hut), dan Kepala Desa Bandung Jaya, Bapak Suwandi. Suwandi, selaku Kepala Desa Bandung Jaya, merespon inovasi yang dilakukan oleh tim dari Universitas Bengkulu tersebut. "Kami dari Desa Bandung Jaya sangat mendukung acara ini yang tentu saja bermanfaat untuk masyarakat. Kegiatan desa kami sebagian besar adalah di bidang pertanian dengan sampah organik yang melimpah. Pengolahan sampah ini menjadi produk yang bernilai jual tentu akan sangat menyenangkan bagi kami” demikian sambutan Bapak Suwandi.
Tujuan program ini seperti yang disampaikan oleh ketua tim pengabdian yang juga Dosen di Pendidikan Biologi Universitas Bengkulu, yaitu untuk 1). Mengefektifkan fungsi TPS3R yang telah berdiri sejak 2021 dengan pendanaan dari PUPR; 2). Mengurangi kiriman sampah ke TPA Lubuk Saung yang mulai mengalami over kapasitas; dan 3). Meningkatkan perekonomian masyarakat melalui usaha pengelolaan sampah organik. “Pengelolaan sampah adalah usaha dengan untung dua kali lipat. Mengumpulkan sampah sudah digaji, saat menghasilkan produk dari sampah tersebut kembali mendapatkan gaji. Jadi seharusnya usaha pengelolaan sampah adalah bisnis yang menjanjikan” pungkas dosen yang aktif di berbagai kegiatan lingkungan ini.
Selain penyuluhan dengan metode ceramah, tim pengabdian juga membagikan panduan cetak berwarna bagi setiap peserta pelatihan. Hal ini bertujuan dapat menjadi panduan mandiri bagi peserta saat melakukan tahap demi tahap budidaya maggot, pembuatan eco-enzyme dan pembuatan kompos setelah kegiatan pelatihan selesai. Pada kegiatan ini, tim pengabdi membimbing peserta dalam melakukan praktek langsung budidaya maggot, pembuatan eco-enzyme dan pembuatan kompos. Semua alat dan bahan disediakan oleh tim. Adapun praktek pelatihan dibagi dalam lima tahapan kunjungan, yaitu: 1) Persiapan alat dan bahan beserta kegiatan sosialisasi; 2). Praktek budidaya maggot, pembuatan ecoenzim, dan pembuatan kompos; 3). Pelatihan panen maggot tahap satu sekaligus pemisahan hasil panen dengan maggot yang disiapkan menjadi indukan. Kegiatan ini juga diisi dengan pengemasan maggot kering dan pengemasan kompos hingga siap jual; 4). Pelatihan isolasi telur maggot dari sarang ke bak produksi; dan 5). Pelatihan panen eco-enzym serta membuatnya dalam kemasan siap jual. Sedangkan partipasi kelompok masyarakat dalam kegiatan ini adalah sebagai peserta, menyediakan bangunan, menyediakan bahan berupa sampah/limbah rumah tangga dan lingkungan, dan mentransportasikan bahan/sampah ke lokasi tempat pengolahan sampah reduce, reuse, dan recycle (TPS3R).
Kegiatan pelatihan pemberdayaan masyarakat ini telah memberikan keterampilan baru terkait budidaya maggot, pembuatan ecoenzyme serta pembuatan kompos kering dan basah bagi kelompok pengelola sampah di Desa Bandung Jaya dan Desa Cugung Lalang. Pada jangka panjang, tim pengabdian akan mendampingi para kelompok pengelola sampah untuk pemasaran maggot dan ekoenzim. Selain itu, tim pengabdian juga akan melakukan kegiatan tambahan dalam bentuk budidaya cacing tanah dan jamur tiram.
