Skip to main content
x
TNI

Di Ujung Senja, TNI Menyulam Asa

Oleh : Muhamad Akbar Daming

.



“Kan kuingat selalu, kan kukenang selalu… Senja indah senja di Kaimana…”

Sepenggal lirik itu mengalun lirih di kepala saat kaki pertama kali menapaki pasir putih di pesisir Kaimana. Lagu yang diciptakan oleh Surni Warkiman dan dipopulerkan oleh Alfian Harahap pada era 1960-an itu selama ini hanya terdengar dari pengeras suara dan daftar putar Spotify. Namun di sini, di ufuk barat Papua, saya menemukan jawabannya.

Laut Arafura terhampar luas, seakan tanpa batas. Matahari perlahan turun tepat di hadapan garis cakrawala, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air. Tak ada gedung tinggi, tak ada bising kendaraan hanya desir angin dan debur ombak yang mengantar senja pulang. Kini saya mengerti, lagu itu bukan sekadar lirik. Ia lahir dari kenyataan.

Namun waktu tak memberi ruang panjang untuk larut dalam romantika senja. Ada denyut lain yang sedang bergetar di tanah ini denyut pembangunan.



Perahu-Perahu yang Mengangkut Harapan

.Satgas TMMD Kodim 1804/Kaimana memindahkan matrial bangunan dari kapal

Suara mesin perahu memecah kesunyian pagi. Sebuah boat merapat perlahan, lambungnya memantulkan cahaya laut yang masih berembun. Di dalamnya, personel Satgas TMMD dari Kodim 1804/Kaimana berdiri tegap di antara tumpukan semen, kayu, dan besi.

Material bangunan itu bukan sekadar barang. Ia adalah simbol. Ia adalah fondasi dari harapan yang sedang dirajut di kampung-kampung pesisir ini.

Satu per satu material dipindahkan dari perut perahu. Bahu memikul kayu, tangan menggenggam karung semen, sepatu terbenam di pasir basah. Jalur laut dipilih bukan karena mudah melainkan karena jalur darat terlalu keras untuk ditaklukkan. Hutan lebat, tanah berlumpur, dan akses yang nyaris tak tersentuh menjadi saksi betapa medan di sini menuntut kesabaran dan daya juang.

Wakil Komandan Satgas, Leonard Sahulata, yang turut mengawasi proses penurunan material itu, sempat menyampaikan kepada saya di sela kegiatan, “Kami memilih jalur laut karena itu yang paling memungkinkan untuk menjangkau lokasi sasaran. Medannya cukup berat, tetapi itu tidak menjadi hambatan bagi kami. Justru ini menjadi tantangan yang memacu semangat anggota untuk memastikan seluruh material tiba tepat waktu dan pembangunan berjalan sesuai rencana.”

Tak satu pun wajah yang mengeluh.

Di sela napas yang berat, ada tawa kecil yang pecah. Ada semangat yang menyala dalam sorot mata para prajurit. Mereka datang bukan untuk sekadar bekerja. Mereka datang untuk memastikan harapan itu benar-benar berdiri kokoh, seperti jembatan dan jalan yang tengah mereka bangun di tanah Kaimana.

Langkah Tegas di Belakang Barisan

.Letkol Kav M. Sulistyo Nugroho, S.I.P., M.I.P., saat datang kelokasi di sambut hangat oleh warga dan anak-anak
 

Di antara barisan prajurit yang berjalan menyusuri jalan setapak, tampak sosok yang tak asing bagi warga. Dansatgas TMMD, M. Sulistyo Nugroho, melangkah tanpa jarak dengan anggotanya. Ia tidak berjalan paling depan untuk sekadar dilihat, tidak pula menjaga jarak sebagai atasan. Ia memilih berada di tengah menjadi bagian dari denyut kerja itu sendiri.

Tak ada pembatas. Tak ada formalitas berlebihan. Sepatu lapangannya sama berdebu, lengannya sama tersengat matahari pesisir. Sesekali ia berhenti, memperhatikan detail pekerjaan, berbincang dengan warga, lalu melanjutkan langkah dengan ritme yang sama seperti prajurit lainnya. Ia memastikan setiap sasaran berjalan sebagaimana mestinya. Namun lebih dari itu, ia memastikan bahwa setiap warga merasa didengar.

Meski belum genap satu tahun mengemban amanah sebagai Komandan Kodim 1804/Kaimana, Letkol Kav M. Sulistyo Nugroho, S.I.P., M.I.P., menunjukkan tekad untuk memberikan yang terbaik bagi wilayah tugasnya. TMMD Ke-127 menjadi salah satu penanda keseriusannya bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, melainkan tentang hadir di tengah kesulitan, mengambil bagian dalam kerja nyata, dan meninggalkan jejak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

 

Jembatan yang Menaklukkan Sungai

.Satgas TMMD sedang malakukan Pembangunan jembatan

Sungai yang dahulu menjadi batas kini sedang ditaklukkan.

Sejak dibuka pada 10 Februari 2026, TMMD Ke-127 bergerak tanpa henti. Batu-batu besar disusun dengan presisi, semen dituangkan, besi dirangkai menjadi tulang penyangga.

Panjang 15 meter, lebar 5 meter.

Namun ukuran itu tak mampu menggambarkan maknanya.

Jembatan itu akan menghapus jarak yang selama ini memisahkan. Ia akan memudahkan warga membawa hasil kebun. Ia akan mempersingkat langkah anak-anak menuju sekolah. Ia akan menghubungkan kehidupan.

Di bawah terik matahari, keringat bercampur debu. Tapi di mata para prajurit, ada cahaya tekad yang tak tergoyahkan.

 

400 Meter yang Mengubah Takdir

.Jalan Kampung Marsi sepanjang 400 meter yang menjadi salah satu sasaran kegiatan TMMD

Di Kampung Marsi, tanah yang dulu becek kini mulai mengeras. Jalan sepanjang 400 meter terbentang perlahan, seperti garis baru yang ditarik di atas kanvas desa.

Yang menggetarkan bukan hanya hasilnya tetapi prosesnya.

Anak-anak kecil ikut membantu. Ada yang memungut batu kecil, ada yang membawa air dalam ember kecil dengan langkah tertatih. Tawa mereka berloncatan di antara suara cangkul.

Kepala Desa Bapak Oskar Surawi, “Dulu kami harus berjalan memutar. Sekarang, jalan ini akan memotong jarak hidup kami.”

Jalan itu bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah perubahan.

 

Rumah yang Kembali Bernapas

.Pembangunan RTLH yang menjadi salah satu sasaranm dalam kegiatan TMMD

Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi sentuhan yang paling sunyi namun paling menyentuh dari rangkaian TMMD ini. Di sudut kampung yang jauh dari hiruk pikuk kota, sebuah rumah yang dulu nyaris rebah kini berdiri lebih tegak. Dinding papan yang lapuk telah diganti, atap seng yang bocor tak lagi membiarkan air hujan merembes masuk, dan lantai yang dulu lembap kini terasa lebih kokoh dipijak.

Di depan rumah itu berdiri Ibu Evelina Surawi, penerima manfaat program RTLH. Ia memandangi dinding barunya seolah tak percaya perubahan itu benar-benar terjadi. Matanya berkaca-kaca, jemarinya menyentuh kusen pintu yang kini lebih kuat. Dengan suara lirih ia berkata, “Sekarang kalau hujan turun, kami tak lagi khawatir. Dulu kalau malam hujan deras, kami tidak bisa tidur karena takut atap bocor dan dinding roboh.”

Rumah itu mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang. Tak ada ornamen mewah, tak ada cat mencolok. Namun bagi Ibu Evelina dan keluarganya, rumah itu adalah benteng martabat tempat anak-anaknya berteduh dengan rasa aman, tempat doa-doa dipanjatkan tanpa rasa cemas. Di situlah TMMD menghadirkan makna yang lebih dalam membangun bukan hanya bangunan, tetapi menghadirkan rasa tenang dan harapan baru bagi sebuah keluarga di tanah Kaimana.

 

Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Sehat

.Salah satu Pembangunan MCk yang sudah selesai di kerjakan

Pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur besar, tetapi juga tentang kebutuhan paling mendasar manusia. Dalam TMMD Ke-127 ini, Satgas Kodim 1804/Kaimana membangun 4 unit MCK untuk masyarakat di lokasi sasaran. Bangunan yang tampak sederhana itu sejatinya menghadirkan perubahan besar dalam pola hidup warga sehari-hari.

Sebelumnya, sebagian masyarakat masih memanfaatkan area terbuka untuk kebutuhan sanitasi. Kini, dengan hadirnya fasilitas MCK yang lebih layak, bersih, dan tertata, kualitas kesehatan lingkungan perlahan meningkat. Anak-anak tumbuh dalam kondisi yang lebih higienis, para orang tua merasa lebih nyaman, dan kehidupan menjadi lebih bermartabat. Empat unit MCK itu berdiri bukan sekadar sebagai bangunan, melainkan simbol kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.

 

Air yang Mengalirkan Harapan

Selain sanitasi, kebutuhan akan air bersih juga menjadi perhatian serius dalam kegiatan TMMD ini. Sebanyak 2 titik sumur bor dibangun untuk memudahkan masyarakat mendapatkan akses air layak konsumsi. Program ini merupakan salah satu program unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil.

Kini warga tidak lagi harus berjalan jauh untuk mengambil air. Dari perut bumi Kaimana, air memancar membawa harapan baru. Ember-ember terisi lebih mudah, aktivitas rumah tangga berjalan lebih lancar, dan kualitas hidup pun meningkat. Dua titik sumur bor itu bukan sekadar fasilitas fisik ia adalah sumber kehidupan yang mengalirkan kesehatan, kenyamanan, dan optimisme bagi masa depan masyarakat.

 

Merawat Jiwa, Menguatkan Wawasan

.Pemberian pengobatan gratis yang menjadi salah satu kegiatan non fisik

TMMD bukan hanya tentang jembatan yang berdiri kokoh atau jalan yang membentang panjang. Di balik deru mesin dan bunyi cangkul, ada sentuhan lain yang tak kalah penting sentuhan kemanusiaan. Pada momen pembukaan TMMD, masyarakat memadati lokasi kegiatan, bukan hanya untuk menyaksikan seremoni, tetapi untuk mendapatkan layanan pengobatan massal dan pembagian sembako. Wajah-wajah yang semula menyimpan lelah berubah cerah ketika bantuan diterima langsung dari tangan para prajurit. Anak-anak digendong menuju meja pemeriksaan, para lansia duduk sabar menunggu giliran. Di sana, TMMD menjelma lebih dari sekadar programia menjadi pelukan negara bagi warganya.

Tak berhenti pada layanan kesehatan, kegiatan nonfisik juga menyentuh ruang-ruang kesadaran masyarakat. Penyuluhan tentang ideologi Pancasila dan kebijakan pemerintah digelar dalam suasana yang hangat dan dialogis. Warga duduk bersila, mendengarkan pemaparan dengan penuh perhatian. Nilai-nilai kebangsaan kembali ditegaskan bahwa persatuan, toleransi, dan cinta tanah air adalah fondasi utama kehidupan berbangsa, terlebih di wilayah terluar yang berbatasan langsung dengan laut lepas.

Di kesempatan yang sama, penyuluhan tentang bahaya narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, dan penyimpangan sosial lainnya turut disampaikan secara terbuka dan edukatif. Para prajurit dan narasumber mengajak generasi muda untuk menjaga masa depan mereka dengan menjauhi hal-hal yang dapat merusak diri dan lingkungan. Diskusi berlangsung tanpa menggurui, melainkan dengan pendekatan persuasif dan penuh kepedulian. Di situlah TMMD menunjukkan wajah lain: membangun bukan hanya fisik desa, tetapi juga benteng moral dan wawasan masyarakatnya.

Apresiasi dari Tim Pengawas

.Brigjen TNI Joni Triman Hasibuan saat tinjau Lokasi kegiatan TMMD sebagai Ketua Tim Wasev

Pada 27 Februari 2026, lokasi TMMD Ke-127 di Kaimana mendapat kunjungan Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) yang dipimpin oleh Brigjen TNI Joni Triman Hasibuan. Kehadiran Ketua Tim Wasev itu menjadi penanda bahwa pelaksanaan program ini tidak hanya berjalan di tingkat satuan, tetapi juga mendapat perhatian langsung dari pimpinan TNI AD. Peninjauan dilakukan menyeluruh mulai dari sasaran fisik seperti jembatan dan jalan, hingga program nonfisik yang menyentuh masyarakat.

Di sela peninjauan, Ketua Tim Wasev menyampaikan apresiasinya atas capaian yang telah diraih. “Saya melihat semangat luar biasa dari Satgas dan partisipasi aktif masyarakat. Inilah wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat. Program TMMD bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat persatuan dan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya di hadapan prajurit dan warga yang hadir.

Namun lebih dari sekadar evaluasi dan laporan progres, kunjungan itu menghadirkan keyakinan bahwa pembangunan di pelosok negeri bukan sekadar angka dalam administrasi. Di tanah Kaimana, TMMD hidup sebagai denyut kebersamaan dijaga dengan kerja keras, diawasi dengan tanggung jawab, dan dirawat dengan semangat pengabdian.

Gotong Royong yang Mengubah Harapan Menjadi Kenyataan

.Warga yang sangat antusias membantu satgas TMMD

Hari demi hari berlalu di tanah Kaimana. Bersama waktu, kerja keras Satgas TMMD Kodim 1804/Kaimana perlahan menjelma hasil nyata. Jembatan yang dulu hanya menjadi rencana kini berdiri menghubungkan dua sisi sungai. Jalan yang sebelumnya berlumpur mulai terbentang memudahkan langkah warga. Rumah-rumah yang nyaris roboh kembali tegak, sementara air bersih dan fasilitas sanitasi menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat.

Seluruh sasaran kegiatan terselesaikan, menjadi penanda keberhasilan TMMD di wilayah ini. Namun keberhasilan itu tidak lahir dari kerja satu pihak semata. Antusiasme warga yang tak pernah tinggal diam ikut memanggul kayu, mengangkat batu, hingga membantu setiap proses Pembangunan menjadi kekuatan yang memastikan setiap pekerjaan dapat dituntaskan bersama.

Di tanah Kaimana, kerja keras para prajurit dan semangat gotong royong masyarakat berpadu menjadi satu cerita: tentang kebersamaan yang mampu mengubah harapan menjadi kenyataan.

Sentuhan Pangdam di Penghujung Pembangunan

.Mayjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru tinjau sasaran kegiatan TMMD

Menjelang berakhirnya rangkaian kegiatan TMMD Ke-127, perhatian pimpinan tingkat atas turut hadir memastikan seluruh sasaran benar-benar selesai dan siap dimanfaatkan masyarakat. Pangdam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru, melaksanakan peninjauan langsung ke jembatan yang dibangun di Kampung Marsi, Distrik Kaimana, Kabupaten Kaimana. Kehadirannya menjadi penegasan bahwa pembangunan yang dilakukan Satgas TMMD tidak hanya dipantau di tingkat satuan, tetapi juga mendapat perhatian penuh dari komando atas.

Di lokasi tersebut, Pangdam meninjau langsung kondisi jembatan yang kini berdiri kokoh membentang di atas sungai yang sebelumnya menjadi penghalang aktivitas warga. Struktur yang telah rampung menunjukkan hasil kerja keras Satgas bersama masyarakat selama pelaksanaan TMMD. Dalam kesempatan itu ditegaskan bahwa pembangunan jembatan di Kampung Marsi telah mencapai 100 persen dan siap dimanfaatkan oleh masyarakat.

Mayjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru menyampaikan harapannya agar jembatan tersebut dapat memberi manfaat besar bagi warga. “Kami berharap jembatan ini dapat digunakan dengan baik oleh masyarakat Kampung Marsi maupun kampung-kampung di sekitarnya, sehingga dapat mempermudah akses, meningkatkan aktivitas ekonomi, serta mendukung kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Tiga Puluh Hari yang Menjadi Bukti Pengabdian

.Bupati Kaimana, Drs. Hasan Achmad, M.Si, Bersama rombongan meninjau lokasi kegiatan TMMD

Setelah tiga puluh hari penuh kerja keras, pengabdian, dan kebersamaan, rangkaian kegiatan TMMD Kodim 1804/Kaimana akhirnya mencapai garis akhir. Berbagai sasaran pembangunan yang dikerjakan oleh Satgas TMMD bersama masyarakat berhasil dirampungkan dengan baik. Upacara penutupan pun digelar sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan yang selama satu bulan terakhir menjadi denyut pembangunan di Kampung Marsi dan sekitarnya.

Upacara tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta warga yang selama ini ikut terlibat dalam proses pembangunan. Bupati Kaimana, Drs. Hasan Achmad, M.Si, turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan dan apresiasi terhadap pelaksanaan TMMD yang telah membawa perubahan nyata bagi masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Kaimana menyampaikan ucapan terima kasih kepada TNI, khususnya Kodim 1804/Kaimana, atas dedikasi dan kerja keras yang telah diberikan. Ia mengatakan, “Kami atas nama Pemerintah Kabupaten Kaimana dan seluruh masyarakat menyampaikan terima kasih kepada TNI, khususnya Kodim 1804/Kaimana, yang telah bekerja keras selama pelaksanaan TMMD ini. Program ini sangat membantu percepatan pembangunan di daerah kami dan manfaatnya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.”

  

Senja yang Menyimpan Harapan

.Warga yang sudah bisa menikmati hasil TMMD

Senja kembali turun di ufuk Kaimana. Langit perlahan berubah warna, dari biru terang menjadi jingga keemasan yang memantul di permukaan Laut Arafura. Ombak kecil berkejaran menuju pantai, sementara angin laut membawa kesejukan yang menenangkan setelah hari yang panjang.

Di tengah keindahan itu, jejak-jejak kerja keras kini tampak nyata. Jembatan yang sedang diselesaikan berdiri kokoh di atas aliran sungai. Jalan yang dulu berlumpur mulai menghubungkan langkah-langkah warga dari satu kampung ke kampung lain. Rumah-rumah yang sebelumnya rapuh kini kembali tegak memberi rasa aman bagi penghuninya. Air bersih mengalir dari sumur yang baru dibangun, dan fasilitas sanitasi menghadirkan kehidupan yang lebih sehat bagi masyarakat.

Semua itu lahir dari kerja Bersama dari tangan-tangan prajurit yang tak lelah bekerja, dari semangat warga yang ikut membantu tanpa diminta, dari gotong royong yang tumbuh tanpa sekat.

Di tanah Kaimana, TMMD bukan sekadar program pembangunan. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, tentang negara yang hadir hingga ke pelosok negeri, dan tentang harapan yang perlahan disulam menjadi kenyataan.

Ketika senja semakin tenggelam di cakrawala, lirik lagu lama itu kembali terngiang:

"Kan kuingat selalu, kan kukenang selalu… Senja indah senja di Kaimana."

Kini saya memahami maknanya dengan cara yang berbeda.

Senja di Kaimana memang indah.
Namun di balik keindahannya, ada keringat yang jatuh di tanah merah, ada langkah-langkah yang tak pernah berhenti bekerja, dan ada prajurit-prajurit yang dengan tulus menyulam asa bagi masa depan masyarakat di ujung barat Papua.