Empat Ruang Kelas, Seribu Harapan: Kisah TMMD ke-127 Kodim 1618/TTU di Perbatasan
Ketika Perbatasan Mulai Bergerak
Pagi di Desa Sunkaen, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara, biasanya berjalan tenang. Perbukitan yang membentang di wilayah perbatasan itu lebih sering dihiasi suara angin dan aktivitas warga yang sederhana. Namun beberapa waktu terakhir, suasana desa berubah. Deru kendaraan pengangkut material, denting palu yang beradu dengan kayu, serta langkah-langkah prajurit berseragam loreng menjadi pemandangan yang tidak biasa.
Di tanah yang sebelumnya berbatu dan tidak rata, sejumlah prajurit TNI bersama warga desa terlihat bekerja tanpa henti. Ada yang meratakan tanah, ada yang mengangkat semen, sementara yang lain menata rangka bangunan. Keringat mereka jatuh di tanah Sunkaen, bercampur dengan debu yang beterbangan tertiup angin perbukitan.
Semua itu adalah bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 yang dilaksanakan oleh Kodim 1618/Timor Tengah Utara. Di desa yang berbatasan langsung dengan negara tetangga ini, TMMD bukan sekadar kegiatan pembangunan, tetapi menjadi cerita tentang bagaimana negara hadir hingga ke pelosok negeri.
Sinergi yang Menghidupkan Harapan
Program TMMD dimulai dengan semangat kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ketiganya menyatukan langkah untuk menjawab kebutuhan pembangunan di wilayah perbatasan yang selama ini masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Wakil Bupati Kamilus Elu menegaskan bahwa keberadaan TMMD memberikan dampak besar bagi masyarakat, terutama dalam mempercepat pembangunan di desa-desa terpencil.
“TMMD adalah wujud nyata sinergitas antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan di wilayah perbatasan. Melalui program ini kita tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun harapan bagi generasi muda,” ujarnya.
Pernyataan itu terasa nyata di Sunkaen. Bagi masyarakat setempat, program ini menghadirkan sesuatu yang selama ini mereka dambakan: fasilitas pendidikan yang lebih layak bagi anak-anak mereka.
Gotong Royong di Bawah Terik Perbatasan
Fokus utama TMMD ke-127 di desa ini adalah pembangunan empat ruang kelas baru di SMAN Bikomi Nilulat. Bangunan itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi warga Sunkaen, ruang kelas tersebut adalah simbol masa depan.
Proses pembangunan dimulai dari perataan lahan yang berbatu, pengiriman material melewati jalur perbukitan, hingga pembangunan pondasi dan struktur bangunan. Semua dilakukan secara bertahap dengan melibatkan prajurit Satgas TMMD dan masyarakat setempat.
Komandan Satgas TMMD ke-127, Didit Prasetyo Purwanto, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk kepedulian TNI terhadap masyarakat di wilayah perbatasan.
“TMMD bukan hanya tentang membangun bangunan, tetapi membangun masa depan. Kami ingin memastikan bahwa anak-anak di wilayah perbatasan memiliki fasilitas pendidikan yang layak sehingga mereka bisa belajar dengan lebih baik dan meraih cita-cita,” ungkapnya.
Di sela pekerjaan, suasana kebersamaan terasa begitu kuat. Prajurit dan warga bekerja berdampingan tanpa sekat. Ada yang mengangkat batu, ada yang mencampur semen, sementara yang lain membantu meratakan tanah. Sesekali terdengar tawa ringan yang memecah kelelahan.
Di tempat itu, gotong royong bukan sekadar kata—ia menjadi energi yang menggerakkan pembangunan.
Bangunan Kecil, Harapan Besar
Hari demi hari berlalu, bangunan yang awalnya hanya berupa pondasi mulai berdiri tegak. Dinding demi dinding terpasang, atap mulai terpasang, hingga akhirnya empat ruang kelas baru itu tampak kokoh di tengah perbukitan Sunkaen.
Peresmian bangunan tersebut dilakukan oleh Komandan Korem 161/Wira Sakti, Hendro Cahyono, yang hadir langsung untuk melihat hasil kerja keras prajurit dan masyarakat.
“Keberhasilan pembangunan ini merupakan bukti nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Semoga fasilitas pendidikan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para siswa untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Bagi anak-anak di desa ini, bangunan tersebut lebih dari sekadar ruang kelas. Di sanalah mereka akan belajar membaca dunia, menulis mimpi, dan menatap masa depan yang lebih cerah.
Dari Sunkaen untuk Masa Depan Negeri
Program TMMD ke-127 mungkin memiliki batas waktu pelaksanaan. Namun jejak pengabdiannya akan terus hidup di Desa Sunkaen. Empat ruang kelas yang kini berdiri kokoh akan menjadi saksi bahwa perubahan dapat dimulai dari tempat yang paling sederhana.
Di ruang-ruang kelas itulah kelak anak-anak perbatasan akan menapaki perjalanan menuju masa depan mereka.
Dari tanah Sunkaen, sebuah pesan sederhana mengalir ke seluruh negeri: bahwa ketika negara hadir hingga ke perbatasan, harapan selalu menemukan jalannya.
