Skip to main content
x
TNI

Jembatan Harapan, Jalan Kehidupan Dalam Catatan TMMD di Desa Nekudu

Oleh :Kolonel Inf Herry Idrianto, S.I.P., Dansatgas TMMD 125 Kodim 1417/Kendari

.
Jebatan pembangunan TMMD Ke 125 Kodim 1417/Kendari

Aku masih ingat betul saat pertama kali berdiri di tepi anak sungai Desa Nekudu. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Di hadapanku terbentang sebuah jembatan kayu tua, lapuk dimakan waktu. Papan-papannya berlubang, sebagian terangkat, dan setiap kali dilalui motor, terdengar bunyi derit yang membuat siapa pun yang mendengar ikut menahan napas.

Saat itu, seorang ibu mendekat. Ia bernama Ibu Rani. Dengan suara bergetar, ia berkata, “Setiap kali anak saya melewati jembatan ini untuk pergi sekolah, hati saya bergetar. Takut sekali kalau jembatan ini tiba-tiba patah.” Ucapannya menancap dalam hatiku. Aku tahu, di jembatan rapuh itu, bukan hanya papan kayu yang dipertaruhkan, melainkan juga harapan hidup warga.

Di situlah aku sadar, misi kami di Desa Nekudu bukan sekadar membangun jalan atau jembatan. Kami hadir untuk menghadirkan rasa aman, harapan baru, dan senyum yang lama hilang dari wajah masyarakat.


Jembatan Kehidupan

.
pembangunan jembatan

Sebagai Dansatgas TMMD ke-125 Kodim 1417/Kendari, aku bersama prajurit dan warga bekerja bahu-membahu memperbaiki lima titik jembatan sekaligus. Aku tahu, jembatan bukan hanya kayu dan paku. Ia adalah nadi kehidupan tempat anak-anak menyeberang menuju sekolah, petani membawa hasil panen, dan ibu-ibu menuju pasar.

Aku sering mendengar warga berkata, “Jembatan ini adalah penghubung mimpi kami.” Setiap kali aku ikut mengangkat kayu baru, menata papan dengan tangan penuh peluh, aku merasa sedang ikut menata kembali kehidupan masyarakat yang sempat rapuh.


Tiga Kilometer Jalan Harapan

.Pembangunan jalan

Selain jembatan, jalan desa sepanjang 3.000 meter juga menjadi perhatian utama. Jalan itu sebelumnya hanyalah tanah merah yang licin kala hujan. Berapa kali aku melihat motor tergelincir, atau warga memikul hasil kebun karena kendaraan tak bisa lewat.

Kini, pemandangan itu berubah. Dump truck datang silih berganti, prajurit dan warga menebarkan koral, menata batu-batu hingga jalan itu semakin ramah dilalui. Aku teringat kata La Ode Amir, tokoh masyarakat setempat, “Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi kami selain melihat anak-anak bisa ke sekolah tanpa harus jatuh berkali-kali di jalan berlumpur.”

Bagiku, jalan ini bukan sekadar urusan teknis. Jalan adalah pintu gerbang menuju ekonomi dan pendidikan. Ketika akses terbuka, maka peluang hidup warga juga terbuka.


Air, Sanitasi, dan Kehidupan Baru

Kami juga menyentuh kebutuhan paling dasar air dan sanitasi. Delapan titik MCK kami bangun, lima sumur bor kami gali. Aku tidak bisa melupakan momen ketika air pertama kali menyembur dari sumur bor, anak-anak desa langsung berlarian di bawah guyuran itu, tertawa riang dengan pakaian basah kuyup.

.
anak-anak sedang bermain air

Air bagi mereka bukan sekadar kebutuhan hidup ia adalah sumber kebahagiaan baru. Dan melihat tawa itu, aku semakin yakin, kesehatan dan kebersihan adalah pondasi utama masa depan.


Gotong Royong yang Menyatukan

.Warga ikut membantu satgas TMMD Kodim 1417

Aku tidak pernah sendiri di desa ini. Prajuritku tidak pernah sendiri. Warga selalu turun tangan: ada yang mengangkat kayu, ada yang menata batu, ada yang sekadar menyodorkan segelas air. Inilah gotong royong. Inilah kebersamaan.

Di tengah debu, peluh, dan tawa, aku melihat satu hal rakyat dan TNI adalah satu. Seperti yang pernah diungkapkan Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, S.T, “Pembangunan bukan hanya soal fisik, tetapi soal kebersamaan. Dengan gotong royong, beban seberat apa pun terasa ringan.”


Merdeka yang Sebenarnya

Agustus datang membawa warna baru. Desa Nekudu merayakan HUT RI ke-80 dengan semangat yang tak pernah kulihat sebelumnya. Jalan yang baru kami timbun berubah jadi arena lomba, lapangan desa penuh bendera merah putih.

Aku tertawa bersama warga saat mereka berjuang memanjat batang pinang yang licin. Aku bertepuk tangan saat hadiah di puncak berhasil diraih. Di momen itu, aku tak melihat lagi pangkat atau seragam. Yang ada hanyalah tawa kebersamaan, rakyat dan prajurit dalam satu rasa: merdeka.


Cinta yang Tak Butuh Kata

Kini, setelah program TMMD berakhir, Desa Nekudu tidak lagi sama. Jembatan berdiri kokoh, jalan ramah dilalui, sumur-sumur memancarkan air jernih, dan MCK menjaga kesehatan warga. Namun, yang paling abadi bukanlah bangunan itu, melainkan perasaan yang tertinggal: rasa dicintai, diperhatikan, dan dianggap penting.

Aku percaya, cinta sejati tidak selalu hadir lewat kata-kata. Kadang, cinta hadir lewat sebuah jembatan yang tak lagi goyah, jalan yang tak lagi berlumpur, sumur yang tak pernah kering, atau peluh yang jatuh bersama doa.

Aku, Kolonel Inf Herry Idrianto, S.I.P., Dansatgas TMMD 125 Kodim 1417/Kendari, bersyukur bisa menjadi bagian dari kisah ini. Karena di Desa Nekudu, aku belajar bahwa bekerja untuk rakyat adalah bahasa cinta yang paling tulus.