Skip to main content
x
Apakah Perbankan Syariah Sudah Menjawab Kebutuhan Generasi Milenial di 2023

Apakah Perbankan Syariah Sudah Menjawab Kebutuhan Generasi Milenial di 2023

Oleh: Agnes Yolanda, M.E.
Dosen Ekonomi Syariah STIESNU Bengkulu


Wartaprima.com - Perbankan syariah di Indonesia terus mengalami pertumbuhan positif, tercermin dari peningkatan aset dan jumlah nasabah dalam beberapa tahun terakhir. Seiring dengan itu, demografi pengguna jasa keuangan juga berubah, dengan generasi milenial (lahir 1981–1996) kini menjadi kelompok usia dominan dalam populasi Indonesia. Generasi ini memiliki karakteristik unik: melek digital, menghargai kecepatan layanan, serta mengutamakan nilai-nilai etis dalam bertransaksi. Oleh karena itu, keberhasilan perbankan syariah di masa depan sangat bergantung pada kemampuannya menjawab kebutuhan dan ekspektasi generasi ini.
Namun, apakah pada tahun 2023 perbankan syariah di Indonesia sudah benar-benar menjawab tantangan tersebut?

Perkembangan Digitalisasi Perbankan Syariah

Digitalisasi merupakan syarat mutlak dalam memenangkan hati generasi milenial. Bank-bank syariah, seperti Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Bank Muamalat, telah meluncurkan aplikasi mobile banking dan memperluas kanal digital. BSI Mobile, misalnya menawarkan fasilitas pembukaan rekening online, pembayaran zakat dan sedekah digital, serta pembiayaan berbasis syariah. Namun, dibandingkan dengan layanan fintech konvensional atau bank digital non-syariah, pengalaman pengguna (user experience) dari aplikasi bank syariah masih kerap dianggap kurang intuitif. Fitur-fitur lanjutan seperti integrasi e-wallet, personal financial management, atau advisory keuangan berbasis syariah masih minim. Generasi milenial, yang terbiasa dengan kecepatan dan fleksibilitas aplikasi seperti OVO, DANA, dan Jenius, cenderung membandingkan layanan tersebut dengan bank syariah.

Inovasi Produk dan Relevansi dengan Kebutuhan Milenial

Selain digitalisasi, inovasi produk menjadi faktor kunci. Generasi milenial lebih tertarik pada produk investasi dan proteksi berbasis nilai. Produk seperti reksa dana syariah, sukuk ritel, dan asuransi syariah (takaful) menjadi sangat diminati. Beberapa bank syariah sudah mulai menawarkan produk tersebut, namun keterbatasan edukasi pasar menyebabkan penetrasi produk-produk ini masih rendah. Produk pembiayaan seperti KPR Syariah dan pembiayaan kendaraan bermotor berbasis syariah juga terus tumbuh, tetapi diperlukan fleksibilitas skema pembayaran dan transparansi margin agar lebih kompetitif dibanding produk konvensional.

Selain itu, gaya hidup milenial yang mengutamakan traveling, startup bisnis, dan investasi kecil-kecilan seharusnya mendorong bank syariah menawarkan produk-produk berbasis sharing economy atau crowdfunding syariah  sayangnya, ini belum banyak diadopsi.

Tantangan Branding dan Komunikasi Nilai Syariah

Walaupun prinsip syariah mengedepankan keadilan, transparansi, dan keberlanjutan nilai-nilai yang sangat sejalan dengan aspirasi milenial strategi komunikasi bank syariah masih lemah. Narasi yang digunakan lebih sering normatif dan formal, kurang menggugah emosi atau lifestyle generasi muda. Kampanye branding berbasis storytelling, pemanfaatan influencer muslim millennial, dan penggunaan platform media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, serta YouTube Shorts seharusnya diperkuat untuk meningkatkan brand engagement bank syariah dengan milenial.

Pada tahun 2023, perbankan syariah di Indonesia telah menunjukkan langkah positif dalam upaya memenuhi kebutuhan generasi milenial. Akan tetapi, langkah-langkah tersebut masih sporadis dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam model bisnis bank syariah. Agar lebih relevan dan kompetitif di mata generasi milenial, bank syariah perlu:

1.    Mengakselerasi digitalisasi dengan meningkatkan kualitas aplikasi dan integrasi ekosistem keuangan digital berbasis syariah.
2.    Meningkatkan inovasi produk yang adaptif terhadap gaya hidup dan aspirasi milenial.
3.    Melakukan kampanye komunikasi yang kreatif dan dekat dengan kultur milenial tanpa menghilangkan nilai-nilai syariah.
4.    Menguatkan literasi keuangan syariah melalui pendekatan edukasi yang ringan, visual, dan story-based.


Dengan demikian, perbankan syariah tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi pilihan utama generasi masa depan Indonesia.