Skip to main content
x

Dari Timur, Kami Menyalakan Harapan

Oleh: Letkol Inf Andry Christian, S.Sos. ( Dansatgas Kodim 1711/Boven Digoel )


 

.

Hari terakhir di Waropko tak pernah kulupakan.
Anak-anak bernyanyi di bawah bendera merah putih yang berkibar di antara rumah baru. Langit timur berwarna jingga, memantulkan sinar lembut di jalan beton yang kini membentang kokoh.

Di bawah cahaya itu, wajah warga tampak berseri bukan hanya karena jalan, air, atau rumah baru, tapi karena rasa percaya diri yang tumbuh.
Waropko, yang dulu sepi dan berlumpur, kini menjadi simbol kehidupan baru di ujung negeri.

“Sekarang torang tra tinggal di pinggiran lagi, Bapak. Torang di depan,”
kata seorang bapak tua sambil menepuk bahuku.

Aku tersenyum. Karena di sanalah, di tanah yang pertama disapa mentari, aku melihat Indonesia yang sejati sederhana, hangat, dan penuh harapan.


Air yang Mengalir Bersama Doa

.

Anak-anak yang sedang bermain air dilokasi pembuatan sumur bor

Beberapa hari sebelum TMMD rampung, air pertama keluar dari pipa di tengah kampung.
Suara sorak membahana, tawa pecah, dan beberapa ibu meneteskan air mata.

“Air keluar sudah! Sekarang torang bisa ambil di sini saja, dekat rumah!”

Dulu, mereka harus berjalan jauh menuruni tebing untuk mengambil air sungai. Jalan licin, gelap, dan berbahaya.
Kini, lima titik sumber air bersih mengalir langsung ke rumah-rumah.

Seorang ibu menampung air di ember, membasuh wajahnya, dan tersenyum panjang.
Aku berdiri tak jauh, menatap pemandangan itu sambil berbisik dalam hati:
Beginilah wujud kemenangan yang sebenarnya.


Rumah, Martabat, dan Harapan

.
Sasaran RTLH yang telah selesai di bangun

Selain air, kami membangun tiga unit MCK dan dua rumah layak huni.
Bangunan sederhana, tapi maknanya besar.

“Puji Tuhan, sekarang sa bisa mandi di tempat bersih,”
ujar seorang ibu paruh baya dengan mata berkaca.
“Dulu kalau malam-malam mau ke kali takut, sekarang tra lagi.”

Bagi mereka, bangunan itu bukan sekadar tembok dan genteng tapi simbol martabat.
Dan bagi kami, setiap paku yang tertancap adalah wujud nyata kasih negara kepada rakyatnya.


Jalan yang Menghubungkan Hati

.

Pembangunan rabat beton

Setiap pagi kami mulai bekerja di tengah kabut yang pelan-pelan menyingkap hutan.
Suara molen berpadu dengan tawa warga. Jalan tanah sepanjang 730 meter yang dulu licin kini berubah menjadi beton kokoh, menghubungkan rumah, sekolah, dan gereja tiga nadi kehidupan Waropko.

Seorang anak laki-laki menghampiriku, kakinya berdebu tapi matanya berbinar.

“Kaka, sekarang sa bisa ke sekolah tra usah lumpur-lumpur lagi!”

Aku menepuk bahunya.
“Iya, jalan ini buat kamu, buat kalian semua.”

Di setiap ayunan cangkul, kami tahu: yang kami bangun bukan sekadar jalan, tapi masa depan.


Gotong Royong yang Menyatu

Kerja di Waropko tak pernah sepi.
Warga datang tanpa diminta ada yang membantu angkat semen, ada yang memasak, bahkan anak-anak ikut mengantarkan air.

Ketika Tim Wasev datang meninjau, Kolonel Kav Husnizon, S.I.P., sempat berkata,

“Gotong royong seperti inilah kunci keberhasilan TMMD.”

Aku mengangguk.
Waropko mungkin jauh dari pusat kota, tapi semangat kebersamaan di sini terasa paling dekat dengan hati Indonesia.


Membangun Jiwa, Bukan Hanya Bangunan

.
Penyuluhan dalam kegiatan non fisik

Setiap sore, selepas bekerja, kami duduk bersama warga di bawah tenda biru.
Ada kopi, ada sagu bakar, ada tawa. Dalam suasana itu, prajurit dan warga bukan lagi aparat dan rakyat tapi keluarga.

Kami juga menggelar penyuluhan wawasan kebangsaan, kesehatan, dan pendidikan.
Suatu kali, setelah sesi kebangsaan, seorang siswa kecil berdiri dan berkata pelan:

“Kami bagian dari negeri besar.”

Aku terdiam.
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat pembangunan sejati adalah tentang membangkitkan rasa memiliki.


Hari yang Menggetarkan

.
Penyerahaan naskah TMMD Ke 126

Masih kuingat jelas hari pembukaan TMMD ke-126.
Lapangan kecil di tengah kampung disulap menjadi tempat upacara. Tiang bendera dari bambu berdiri gagah, dan merah putih berkibar di bawah langit timur yang hangat.

Bupati Roni Omba S.I.P berdiri di podium sederhana, suaranya lantang:

“Dengan TMMD ini, pembangunan datang juga di sini, di Waropko. Ini tanda negara sayang torang semua!”

Wajah-wajah warga tampak bergetar oleh haru.
Di saat itu aku sadar, TMMD bukan sekadar program pembangunan, tapi pernyataan cinta negara pada anak-anaknya di perbatasan.


Saat Langkah Pertama Ditetapkan

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Waropko, aku menatap sungai yang membelah kampung. Kabut menari di antara pepohonan, burung-burung bersahutan, dan udara terasa bersih seperti halaman pertama dari sebuah kisah panjang.

Kami datang bukan membawa senjata, tapi cangkul, semen, dan niat tulus.
Datang bukan untuk berperang, tapi untuk membangun harapan.

Di tanah yang pertama disapa mentari, kami belajar arti sederhana dari pengabdian:
bahwa kekuatan sejati bangsa ini terletak pada tangan-tangan yang mau bekerja bersama.


Negeri Ini Masih Bernyawa

Kini TMMD ke-126 telah selesai, tapi kisahnya masih hidup di Waropko.
Ketika malam turun dan gemericik air terdengar dari pipa-pipa baru, aku tahu satu hal pasti:

Pembangunan sejati bukan soal beton, pipa, atau bangunan.
Ia adalah tentang cinta, kebersamaan, dan harapan yang tumbuh dari pelukan rakyat kepada negerinya.

Dan di Waropko, cinta itu nyata.
Di sinilah di ujung timur yang pertama disapa mentari Indonesia berdenyut dengan penuh kehidupan.