Skip to main content
x
Hairiyanto, M.Pd. Kepala LPM STIESNU Bengkulu

Mutu Bukan Sekadar Akreditasi, tetapi Budaya Unggul STIESNU Bengkulu

Wartaprima.com - Sebagai Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STIESNU Bengkulu, saya sering merenungkan bahwa angka-angka dalam akreditasi hanyalah manifestasi dari kerja keras yang dilakukan di balik layar. Namun, esensi dari sebuah institusi pendidikan tidaklah berhenti pada lembar penilaian. Ketika saya mengamati proses Audit Mutu Internal (AMI) di kampus ini (Stiesnu-Red), saya melihat potensi besar yang belum terserap sepenuhnya: yaitu bagaimana data mutu bisa menjadi kompas bagi arah masa depan STIESNU Bengkulu.

Dalam konteks STIESNU Bengkulu, saya mendefinisikan “mutu” sebagai "integritas nilai dan kebermanfaatan". Mutu bagi kita bukan sekadar kepatuhan pada standar administratif BAN-PT atau pemenuhan dokumen borang semata. Mutu adalah sejauh mana nilai-nilai ke-NU-an yang kita pegang teguh terimplementasi dalam proses transfer ilmu, serta seberapa besar daya guna lulusan kita dalam menjawab persoalan umat dan masyarakat di Bengkulu. Artinya, sebuah layanan pendidikan dikatakan bermutu di kampus ini apabila ia mampu menyelaraskan keunggulan intelektual dengan kedalaman akhlak, yang kemudian dirasakan manfaatnya secara nyata oleh ekosistem di sekitar kita.

Realitas di ruang kelas, termasuk dalam mata kuliah yang saya ampu seperti Managemen Strategy dan English Language, mengajarkan saya bahwa setiap detail kecil dalam proses belajar-mengajar—jika diukur dengan standar yang tepat—akan berdampak signifikan pada kualitas lulusan. Inilah yang mendasari keyakinan saya bahwa LPM tidak boleh hanya bertindak sebagai "polisi" administratif. Sebaliknya, LPM harus bertransformasi menjadi pusat kendali yang memberikan asistensi, memicu inovasi, dan memastikan bahwa setiap dosen memiliki ruang untuk tumbuh secara profesional hingga mencapai kualifikasi sertifikasi pendidik.

Untuk mencapai hal tersebut, saya meyakini bahwa kepemimpinan humanis adalah kunci. Memimpin penjaminan mutu bukan berarti memaksakan standar dengan otoritas kaku, melainkan merangkul setiap dosen dan staf sebagai mitra strategis. Pemimpin yang humanis adalah ia yang mampu mendengar tantangan di lapangan, memberikan apresiasi atas setiap progres kecil, dan menempatkan mutu sebagai bagian dari kebanggaan diri setiap individu. Dengan pendekatan ini, kepatuhan muncul dari kesadaran pribadi, bukan karena rasa takut akan sanksi administratif.

Lebih jauh lagi, saya menekankan pentingnya "ritualitas kerja kelompok" dalam membangun kolektifitas. Mutu adalah hasil dari harmoni kerja tim yang berkelanjutan, bukan upaya individual. Oleh karena itu, saya mendorong adanya ruang-ruang diskusi rutin—seperti sesi sharing dan evaluasi informal yang berkesinambungan—sebagai ritual kerja kita untuk menyatukan visi. Melalui pertemuan-pertemuan inilah, kita tidak hanya berbagi data teknis, tetapi juga mengokohkan komitmen moral untuk saling menjaga standar kualitas antar unit kerja. Ritualitas ini adalah cara kita merawat kebersamaan, memastikan bahwa setiap elemen di kampus ini merasa memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjamin masa depan STIESNU Bengkulu.

Ke depan, arah penjaminan mutu kita akan terus bergerak melampaui kepatuhan prosedural. Kita sedang menyusun sistem di mana penjaminan mutu melekat dalam setiap nadi aktivitas akademik. Fokus kita adalah menjadikan data mutu sebagai bahan utama dalam melakukan inovasi kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, seperti perbankan syariah, Ekonomi Syariah, PGMI, PIAUD dan HTN tanpa kehilangan marwah keilmuan yang menjadi jati diri kita.

Pada akhirnya, arah masa depan STIESNU Bengkulu yang di tawarkan adalah tentang membangun "Budaya Unggul". Budaya di mana peningkatan kualitas bukan lagi karena tuntutan akreditasi, melainkan karena kesadaran kolektif yang dibangun melalui kepemimpinan yang merangkul dan ritual kolaborasi yang disiplin. Dengan menautkan standar mutu yang ketat, sentuhan humanis yang hangat, dan inovasi pedagogis yang relevan, saya yakin STIESNU Bengkulu akan berdiri tegak sebagai institusi yang tidak hanya diakui secara nasional, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pengembangan sumber daya manusia di Bengkulu.

Mutu adalah perjalanan panjang, dan hari ini kita sedang menguatkan kolektifitas itu untuk melangkah jauh lebih jauh ke depan.