Satgas TMMD 125, Ksatria di Garis Terdepan Pembangunan Desa

Sinar matahari siang itu menyalak garang, seakan tak memberi ampun. Hanya sebentar aku meneguk air, namun tenggorokan kembali terasa kering. Bayang pepohonan jadi tempat pelarian, seolah satu-satunya perisai dari sengatan. Namun pemandangan yang kulihat sungguh berbeda: anggota Satgas TMMD Kodim 1605/Belu tetap tegak berdiri, wajah mereka mengilap oleh peluh, namun semangat tak sekali pun pudar.
Mereka hanya berteduh di balik topi rimba, namun semangat yang ada di dada seakan mampu mengalahkan panas. Aku berpikir, tentu semangat itu tak sekadar lahir karena tugas. Ada yang lebih besar: sebuah keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk rakyat.
Rakyat Tak Tinggal Diam
Gotong royong satgas TMMD bersama warga
Namun mereka tidak sendirian. Dari berbagai sudut desa, warga satu per satu berdatangan. Ada yang membawa cangkul, ada yang menenteng ember berisi air untuk membasahi debu jalanan. Meski lelah sehabis mencari nafkah, mereka tetap meluangkan waktu untuk bergabung.
Aku melihat seorang bapak tua usianya mungkin di atas lima puluh tahun dengan langkah teratur mengangkat batu di kedua tangannya. Batu itu ia serahkan pada anggota Satgas untuk disusun menjadi lapisan beton di sisi jalan.
“Kalau bukan kita yang bantu, siapa lagi?” ujar bapak itu sambil tersenyum. “Jalan ini nanti juga untuk anak cucu kita. Jadi meski badan pegal, hati senang.”
Di wajah para warga, tak kutemukan keluhan. Ada senyum, ada tawa kecil di sela-sela kerja. Seakan panas dan debu bukan halangan, melainkan bagian dari perjuangan yang justru menguatkan kebersamaan.
Sang Dansatgas yang Turut Turun ke Lapangan
Di tengah hiruk pikuk gotong royong itu, berdiri sosok Letkol Arh Andi Yunus, S.I.P., Dansatgas TMMD 125. Beliau tidak hanya memantau dari kejauhan, melainkan ikut berada di tengah-tengah prajurit dan warga. Sesekali ia menepuk bahu anggotanya, di lain waktu memberi senyum sambil menyapa warga.
Panas terik sama sekali tak membuatnya mundur. "Terima kasih sudah hadir, bapak, mama," ucapnya berulang kali kepada masyarakat yang membantu. Ucapan sederhana, namun terdengar tulus, dan membuat warga semakin giat bekerja.
Jalan Baru yang Membawa Harapan
Proses penimbunan badan jalan
Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, menjadi saksi nyata kebersamaan itu. Drainase mulai terbangun, rabat beton sepanjang 380 meter disusun rapi di kanan-kiri jalan. Sementara di bagian lain, jalan sepanjang 625 meter sedang dibuka dengan penimbunan tanah. Suara mesin excavator berpadu dengan teriakan warga yang saling mengingatkan arah.
Tak berhenti di situ, Kodim 1605/Belu juga membangun limpasan untuk menjaga debit air, agar jalan yang baru dibangun tidak mudah rusak saat musim hujan tiba. Semua dilakukan dengan perhitungan matang, seakan setiap batu dan pasir yang diletakkan adalah investasi untuk masa depan desa.
Riuh di Rehabilitasi Oetfo
rehabilitasi Oetfo
Saat aku berjalan lebih jauh, terdengar suara ramai dari arah lain. Rupanya masyarakat tengah bergotong royong dalam rehabilitasi Oetfo. Suasana begitu hidup, anak-anak berlari di antara orang dewasa yang bekerja, sesekali mengintip rasa ingin tahu dari balik pagar bambu.
Seorang ibu yang tengah menyiapkan air minum untuk para pekerja tersenyum padaku.
“Anak-anak tentara ini sudah jauh-jauh datang bantu kami. Masa kami diam saja? Setidaknya kami bisa kasih tenaga atau sekadar air minum,” ujarnya sambil menuang air ke gelas plastik.
Aku teringat pada upacara pembukaan beberapa waktu lalu. Kala itu Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, berpesan agar masyarakat tak sekadar menjadi penonton, melainkan ikut berpartisipasi aktif. Kini, pesan itu menjadi kenyataan. Warga benar-benar menjawabnya dengan kehadiran nyata.
Truk Pasir dan Batu-Batu Harapan
Tak jauh dari sana, sebuah truk pasir melintas, debu mengepul di belakangnya. Sopir dengan sigap menurunkan muatan pasir yang akan digunakan untuk menyuplai kebutuhan pembangunan rabat beton. Di sudut lain, batu-batu besar ditata, menunggu giliran untuk diangkut ke lokasi pekerjaan.
Pemandangan itu sederhana, namun penuh makna. Setiap butir pasir, setiap bongkah batu, adalah simbol dari harapan baru. Harapan akan jalan yang lebih baik, rumah yang lebih layak, dan kehidupan yang lebih sejahtera.
