TMMD 125 Membangun Jembatan Persatuan dan Jalan Kehidupan
Oleh : Letkol Kav Basofi Cahyowibowo ( Dansatgas Kodim 1607/Sumbawa )

Dulu, sungai ini sering menjadi penghalang. Air derasnya memisahkan Kalabeso dan Labuan Burung, membuat warga harus berputar jauh hanya untuk menjangkau ladang atau pasar. Kini, di tempat yang sama, saya berdiri menyaksikan gotong royong warga dan Satgas TMMD 125 mengangkat balok demi balok, menyusun besi demi besi. Jembatan yang kami bangun bukan sekadar sarana transportasi ia adalah simbol persatuan dan keteguhan setelah banjir meluluhlantakkan desa tahun lalu.
Proses pembuatan jembatan
“Bagus, tapi pastikan jarak besi tetap rapat, ya,” saya sempat berujar sambil menepuk bahu salah satu anggota satgas. Ia mengangguk mantap, lalu kembali menata besi dengan teliti. Dari seberang, seorang ibu desa meneriakkan peringatan, “Hati-hati, Pak, jangan sampai miring!” sebuah tanda bahwa pembangunan ini bukan hanya urusan satgas, tapi milik bersama seluruh warga.
Saat itulah saya merasakan bahwa jembatan ini lebih dari sekadar bangunan fisik. Ia adalah jembatan persatuan, jembatan harapan, yang akan menghubungkan Kalabeso dengan Labuan Burung dan membuka jalan baru bagi kehidupan masyarakat.
Langkah Demi Langkah di Tanah Basah
Banjir besar tahun 2024 telah meninggalkan jejak luka di Desa Kalabeso. Jalanan rusak, rumah-rumah terendam, dan banyak warga kehilangan harta benda. Namun, saya percaya, luka itu bisa disembuhkan dengan kerja keras, kebersamaan, dan harapan yang nyata. Itulah semangat yang kami bawa dalam TMMD ke-125.

Peningkatan jalan usaha tani
Dari pembangunan jalan usaha tani sepanjang 2.000 meter, saya melihat bagaimana wajah-wajah petani kini kembali berseri. Dulu jalan itu hanyalah lautan lumpur yang menyulitkan mereka membawa hasil panen. Kini, jalan selebar tiga meter yang mulus menjadi nadi baru bagi perekonomian desa. Saya masih terngiang ucapan Pak Amin, seorang petani paruh baya, “Alhamdulillah, sekarang panen nggak kesulitan lagi, Pak.” Senyum tulusnya menjadi energi tambahan bagi kami semua.
Rumah, Puskesmas, dan Drainase: Menata Kehidupan Baru
Selain jalan dan jembatan, kami juga merenovasi lima rumah warga, agar lebih layak dihuni. Saya melihat sendiri mata berkaca-kaca Ibu Mahani yang penuh haru ketika rumahnya mulai berdiri kembali. “Alhamdulillah, akhirnya rumah ini bisa layak dihuni,” katanya dengan suara bergetar.
Pukesmas pembantu yang telah di renovasi
Tak jauh dari sana, Puskesmas Pembantu pun direnovasi. Saya ingin memastikan bahwa warga tidak hanya hidup dengan rumah yang nyaman, tetapi juga memiliki akses kesehatan yang layak. Aroma cat baru, suara palu, dan tawa para tenaga kesehatan yang melihat perubahan itu menjadi penanda lahirnya nafas kesehatan baru di desa ini.
Pembangunan drainase sepanjang 290 meter juga menjadi perhatian penting. Warga bercerita kepada saya bahwa setiap hujan deras dulu berarti rumah-rumah mereka siap terendam. Kini, dengan saluran air yang rapi, mereka bisa tidur lebih tenang tanpa khawatir banjir.
Menyentuh Jiwa: Penyuluhan dan Edukasi
Penyuluhan dalam kegiatan non fisik
TMMD tidak hanya soal bangunan fisik. Saya percaya, membangun masyarakat berarti juga membangun pola pikir. Karena itu, kami melaksanakan berbagai penyuluhan kesehatan dan pertanian.
Saya masih mengingat jelas ketika seorang ibu bertanya dalam penyuluhan kesehatan, “Kalau anak-anak suka main di sawah berlumpur, cukupkah cuci tangan sebelum makan?” Dengan sabar, anggota satgas menjawab, “Tidak cukup, Bu. Pastikan tangan bersih setiap kali sebelum makan dan setelah bermain.” Sederhana, tapi itulah pondasi kesehatan.
Di bidang pertanian, kami berbagi ilmu tentang rotasi tanaman, pemanfaatan pupuk organik, hingga pengelolaan drainase sawah agar panen tidak gagal. Dialog hangat dengan para petani membuat saya yakin ilmu yang sederhana bisa menjadi kunci besar bagi ketahanan pangan desa.
Merah Putih, Gotong Royong, dan Kemerdekaan
Kebersamaan itu semakin terasa ketika kami merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus bersama warga. Anak-anak berlarian membawa bendera kecil, warga bersorak dalam lomba tarik tambang, sementara aroma gorengan dan kopi menyatu dengan tawa dan teriakan riang. Saya ikut merasakan energi kemerdekaan itu, energi yang sama yang menghidupi setiap ayunan palu, setiap adukan semen, dan setiap tetes keringat dalam TMMD ini.
Kehadiran yang Menguatkan
Mayjen TNI Christian K. Tehuteru serta Bupati Sumbawa Ir. H. Sarafudin Jarot saat tinjau kegiatan TMMD
Kehadiran pejabat tinggi TNI dan pemerintah daerah seperti Mayjen TNI Christian K. Tehuteru serta Bupati Sumbawa Ir. H. Sarafudin Jarot memberikan semangat tambahan. Saya melihat bagaimana warga merasa dihargai ketika mereka turun langsung, menyalami, dan menyapa satu per satu. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi bukti nyata bahwa apa yang kami kerjakan adalah bagian dari perjuangan bersama.
Simbol Harapan
Brigjen TNI Moch. Sjasul Arief, Danrem 162/Wira Bhakti
Ketika akhirnya Brigjen TNI Moch. Sjasul Arief, Danrem 162/Wira Bhakti, menutup kegiatan TMMD 125, saya menatap jalan, jembatan, rumah, Puskesmas, drainase, dan MCK yang telah berdiri. Semua itu adalah hasil kerja keras, gotong royong, dan semangat pantang menyerah.
Saya sadar, pembangunan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang Desa Kalabeso menuju kehidupan yang lebih layak.
“Capek itu biasa,” ujar seorang anggota satgas kepada saya, “yang luar biasa adalah melihat warga tersenyum.”
Dan memang, setiap senyum warga Kalabeso adalah hadiah terbesar dari TMMD ini.
