Skip to main content
x
rutan

WBP Nasrani Rutan Bengkulu Jalani Ibadah Mingguan

BENGKULU – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Nasrani di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bengkulu mengikuti ibadah mingguan secara virtual pada Jum'at (21/2). Kegiatan ini diselenggarakan langsung oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) dan diikuti oleh WBP Nasrani di seluruh Indonesia.

Kepala Rutan Bengkulu, Yulian Fernando, melalui Kepala Subsi Pelayanan Tahanan, Rafi Rizaldi, menyampaikan bahwa kegiatan ibadah ini merupakan bagian dari pembinaan kepribadian yang diberikan kepada warga binaan, khususnya dalam aspek kerohanian. Ia menegaskan bahwa pemenuhan hak beribadah bagi setiap warga binaan harus terus dijaga, termasuk melalui sarana daring seperti ini.

"Ibadah merupakan kebutuhan spiritual yang harus tetap difasilitasi, meskipun warga binaan sedang menjalani masa pidana. Dengan adanya ibadah virtual ini, mereka tetap bisa beribadah bersama saudara seiman di seluruh Indonesia, memperkuat iman dan memperdalam pemahaman spiritual mereka," ujar Rafi Rizaldi.

Ibadah yang dilakukan secara virtual ini diikuti dengan khusyuk oleh WBP Nasrani Rutan Bengkulu. Dengan menggunakan fasilitas yang telah disiapkan, para warga binaan bisa mengikuti rangkaian ibadah yang mencakup pujian, doa, dan penyampaian firman Tuhan.

Seorang WBP yang mengikuti ibadah tersebut mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan. "Kami sangat berterima kasih karena tetap bisa mengikuti ibadah meskipun berada di dalam rutan. Ini menjadi momen penting bagi kami untuk tetap dekat dengan Tuhan dan mendapatkan penguatan iman," ujarnya.

Program ibadah mingguan secara virtual ini merupakan salah satu bentuk inovasi dalam pelayanan pembinaan bagi warga binaan, khususnya dalam bidang keagamaan. Dengan adanya teknologi, keterbatasan ruang tidak menjadi penghalang bagi WBP untuk tetap mendapatkan hak mereka dalam menjalankan ibadah.

Dengan adanya ibadah virtual ini, diharapkan WBP dapat semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, memperbaiki diri, serta menjalani masa pembinaan dengan lebih baik. Program ini juga menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi setiap individu untuk tetap menjalankan ibadah dan mendapatkan bimbingan rohani.