Skip to main content
x
TNI

Dari Lumpur Keputusasaan Menuju Jalan Harapan

 

Oleh: Letkol Inf Karimmuddin

(Dansatgas TMMD Ke-124 Kodim 1620/Lombok Tengah)

 

.

"Keindahan yang Menyimpan Derita di Keramaian”

 

Pesona yang Menyimpan Duka

Kabut pagi baru saja tersibak ketika kaki pertama kali menginjak tanah Desa Bagu. Di balik panorama mempesona - hamparan sawah hijau tampak padi yang belun lama ditanam tersimpan kisah pilu tentang keterasingan. Desa di ujung selatan Lombok ini bagai mutiara yang terlupakan, terbelenggu oleh jalan rusak yang membuatnya terisolasi dari peradaban.

"Selamat datang di Bagu, Pak Tentara," sapa seorang warga dengan senyum getir. Tangannya menunjuk jalan setapak berlumpur. "Inilah jalan utama kami. Di musim kemarau, debu tebal menyiksa paru-paru. Saat hujan, lumpurnya bisa menelan ban sampai separuh."

.

"Jalan Berlumpur: Penghalang Menuju Kemajuan"

 

Jerit Hati yang Tak Terdengar

Pagi berikutnya, saya mengumpulkan tim di posko darurat. "Kita perlu mendengar langsung keluhan warga," ujar saya membuka rapat. "Sertu Arif, apa yang paling mereka butuhkan?"

Sertu Arif mengeluarkan catatan lapangannya. "Jalan rusak memang masalah utama, Pak. Tapi ada yang lebih memilukan. Untuk air bersih, ibu-ibu harus berjalan 3 kilometer ke sungai. Sekolah dasar di sini atapnya hampir roboh. Dan Puskesmas terdekat tak bisa dijangkau saat hujan.

Malam itu, saya tak bisa tidur. Suara jeritan hati warga Bagu terus bergema di telinga.

.

"Jerit Hati Warga, Harapan di Balik Mata Mereka"

 

Titik Balik Harapan

Esok harinya, kami mengadakan pertemuan terbuka di balai desa. Ratusan warga memenuhi tempat itu dengan harapan tertanam di mata mereka.

Ibu Siti (38) maju dengan bayi digendong. "Maaf Pak, boleh saya berbicara?" Suaranya bergetar. "Anak-anak kami... (ia menarik napas) Setiap musim hujan, mereka harus berjuang melewati jalan becek. Tahun lalu, anak tetangga kami nyaris hilang terseret lumpur."

Air mata mengalir di wajahnya. Beberapa prajurit muda di belakang saya tak kuasa menahan haru.

"Besok kita bentuk dua tim khusus!" tegas saya. "Tim pertama urus jalan utama. Tim kedua tangani air bersih.

.

"Gotong Royong: Semangat Tak Kenal Lelah"

 

Semangat yang Tak Kenal Lelah

Keesokan pagi, suasana desa berubah total. Suara mesin ekskavator bersahutan dengan teriakan semangat warga. Yang paling menyentuh adalah Nenek Mirna (67). Dengan tubuh renta, ia bersikukuh mengangkut pasir dengan ember kecil.

"Biar sedikit, ini untuk cucu-cucuku," katanya sambil tersenyum. Keringat bercampur air mata mengalir di wajahnya yang berkeriput.

.

“Transformasi yang Menyentuh Jiwa"

 

Solusi di Tengah Keterbatasan

Salah satu satgas datang dengan ide brilian. "Kita bisa manfaatkan pipa bekas proyek lain untuk saluran air sementara.

Tak lama kemudian, Wakil Bupati Dr. H. Nursiah datang melihat langsung. "Inilah gotong royong sesungguhnya!" pujinya. "Pemerintah daerah akan segera mengucurkan bantuan tambahan."

.

"Solusi Kreatif: Exsavator untuk Masa Depan Lebih Baik"

 

Transformasi yang Menyentuh Hati

Kurang lebih dua bulan kemudian, perubahan nyata terlihat. Jalan utama yang dulu berlumpur kini menjadi jauh sangat lebih baik.

Tapi yang paling mengharukan adalah perubahan di wajah warga. Anak-anak kini bisa bersepeda ke sekolah tanpa takut terjebak lumpur. Ibu-ibu tak perlu lagi berjalan jauh untuk air bersih.

"Kalian tidak hanya membangun jalan," kata salah satu warga disana sambil berjabat tangan. "Tapi mengembalikan harga diri kami."

.

"Warisan Abadi: Jalan Baru, Harapan Baru"

 

Warisan yang Abadi

Di upacara penutupan TMMD, saya menyaksikan pemandangan yang takkan pernah terlupakan. Seorang kakek tua berjalan tertatih di jalan baru, lalu tiba-tiba berlutut dan mencium aspal itu. "Akhirnya..." isaknya mengguncang hati semua yang hadir.

"Kami datang sebagai tentara, pulang sebagai keluarga. TMMD bukan sekadar proyek fisik, tapi tentang menyentuh hati dan mengubah hidup. Di Bagu, kami tidak hanya meninggalkan jalan beton, tapi juga jejak harapan yang akan terus tumbuh."