Ketika Keringat Prajurit Menyatu dengan Senyum Rakyat Desa Jamut
Oleh: Kolonel Inf Agussalim Tuo, S.H.,M.IP Dansatgas TMMD ke-126 Kodim 1013/Muarateweh

Hari itu matahari belum tinggi, tapi aroma tanah basah dan suara cangkul sudah terdengar di sepanjang jalan Desa Jamut. Saya berdiri di tepi jalan, memandang prajurit dan warga yang bekerja berdampingan tanpa jarak. Ada semangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata semangat yang lahir bukan dari perintah, tapi dari rasa kebersamaan yang tulus.
Saya teringat ketika pertama kali kami meninjau lokasi TMMD ini. Jalan yang kini sudah mulus dulu hanyalah hamparan tanah merah yang licin setiap kali hujan turun. Anak-anak sekolah harus menenteng sepatu, dan para ibu menunggu hingga sore untuk bisa membawa hasil kebun ke pasar karena akses sulit dilalui.
Kini, berkat kerja keras dan gotong royong, jalan sepanjang dua kilometer itu telah berubah menjadi urat nadi baru bagi kehidupan warga Desa Jamut. Melihat anak-anak bersepeda ke sekolah dengan riang, saya tahu bahwa semua lelah kami terbayar lunas.

Membangun Bukan Sekadar Fisik, Tapi Membangun Harapan
Dalam setiap pelaksanaan TMMD, saya selalu menanamkan satu pesan kepada seluruh anggota Satgas: “Kita datang bukan hanya untuk membangun jalan atau rumah, tapi membangun harapan.”
Dan benar, setiap kali kami menggenggam cangkul, mengaduk semen, atau mengangkat batu bersama warga, terasa bahwa apa yang kami bangun jauh lebih besar dari itu semua. Kami membangun kepercayaan, kami membangun hubungan yang mungkin selama ini renggang antara desa dan dunia luar.
Saya masih ingat wajah Bu Solehah, seorang ibu yang rumahnya kami perbaiki. Rumah panggung kecilnya dulu nyaris roboh, tapi kini berdiri kokoh dengan dinding baru dan atap yang tak lagi bocor. Ia menatap kami dengan mata berkaca-kaca dan berkata,
“Terima kasih, Pak. Rumah ini bukan cuma tempat tinggal, tapi harapan baru untuk keluarga kami.”
Kata-kata itu sederhana, tapi terasa begitu dalam.

Keringat, Tawa, dan Rasa Cinta pada Negeri
Setiap pagi, sebelum bekerja, kami selalu menggelar apel bersama di lapangan desa. Anak-anak sering ikut berdiri di pinggir, menirukan gerakan hormat para prajurit. Warga datang membawa kopi dan singkong rebus, menyapa kami dengan senyum yang tulus.
Di sela-sela pekerjaan, tawa selalu terdengar. Prajurit yang biasanya tegas kini bercanda dengan warga, saling bahu-membahu mengangkat bahan bangunan, bahkan ikut membantu warga menanam padi setelah pekerjaan hari itu selesai.
Inilah makna sejati dari manunggal, menurut saya. Ketika seragam loreng tidak lagi menjadi batas, melainkan jembatan antara TNI dan rakyat. Kami belajar bahwa kekuatan terbesar TNI bukan hanya pada senjata, tapi pada kedekatan dengan rakyatnya.
Setiap Sudut Desa Menyimpan Cerita
TMMD di Desa Jamut bukan hanya tentang jalan. Kami juga membangun sumur bor, MCK, rehab rumah ibadah dan sekolah, serta membuka lahan pertanian baru.
Ketika air pertama kali menyembur dari sumur bor di tengah desa, warga bersorak dan bertepuk tangan. Anak-anak berlari mendekat, mencelupkan tangan mereka ke air yang jernih itu. Saya berdiri di belakang, mencoba menahan haru. Karena di situlah, di titik air itu, saya melihat makna sejati dari tugas kami membawa kehidupan.
Kami juga mengadakan berbagai kegiatan nonfisik: penyuluhan hukum, kesehatan, kamtibmas, pertanian, dan wawasan kebangsaan. Melalui kegiatan-kegiatan itu, saya ingin agar TMMD tidak hanya meninggalkan bangunan, tetapi juga pengetahuan dan semangat kemandirian bagi warga.

Warga Adalah Rekan Juang Kami
Salah satu hal yang paling membekas di hati saya adalah antusiasme masyarakat. Setiap hari mereka datang tanpa diminta, membawa alat sederhana, membantu dengan tenaga dan hati.
Ada Pak Dwi, seorang petani yang setiap pagi lebih dulu tiba di lokasi pekerjaan sebelum prajurit datang. Ia berkata,
“Kalau bapak-bapak TNI saja bisa kerja keras untuk kami, masak kami cuma diam?”
Kalimat itu menjadi pelecut semangat bagi kami semua. Karena sesungguhnya, TMMD tidak akan pernah berhasil tanpa partisipasi warga. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, tapi rekan juang yang berdiri sejajar dengan kami di garis pengabdian.

Sinergi yang Menguatkan
Kami tidak berjalan sendiri. Pemerintah daerah, perangkat desa, dan seluruh elemen masyarakat turut terlibat aktif. Dalam setiap rapat kecil atau evaluasi, kami duduk bersama tanpa sekat — membahas solusi, menyusun langkah, dan memastikan setiap program benar-benar bermanfaat.
Saya berterima kasih kepada Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin, S.T., M.T., yang selalu memberikan dukungan penuh sejak awal. Beliau sering mengatakan bahwa TMMD adalah bukti nyata bagaimana sinergi pemerintah dan TNI dapat mempercepat pembangunan dari pinggiran.
Saya percaya, dengan kolaborasi seperti ini, pembangunan bukan hanya tentang hasil, tapi tentang proses yang menyatukan.

Ketika Tugas Usai, Kemanunggalan Tak Berakhir
Hari penutupan TMMD selalu menjadi momen yang emosional. Di satu sisi, ada rasa bangga karena semua sasaran fisik dan nonfisik telah rampung 100 persen. Tapi di sisi lain, ada haru ketika harus berpisah dengan warga yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri.
Malam sebelum upacara penutupan, beberapa ibu-ibu datang ke pos kami membawa penganan sederhana nasi goreng, kopi, dan pisang goreng. Mereka berkata,
“Bapak-bapak jangan lupa Desa Jamut ya. Kalau rindu, datang lagi ke sini.”
Kami hanya tersenyum. Karena kami tahu, kenangan tentang desa ini tak akan mudah dilupakan. Setiap langkah, setiap keringat, setiap senyum warga semuanya sudah menjadi bagian dari perjalanan batin seorang prajurit.
