Dosen UINFAS Bengkulu Raih Doktor Cum Laude, Kembangkan Asesmen IPA Berbasis Taksonomi SOLO
BENGKULU- Dosen Tadris IPA UIN Fatmawati Sukarno (UINFAS) Bengkulu, Naintyn Novitasari, meraih gelar Doktor dengan predikat cum laude pada Program Studi Doktor Pendidikan Konsentrasi Pendidikan IPA, FKIP Universitas Bengkulu. Pencapaian akademik ini diraih melalui riset yang menyoroti penguatan assessment for science berbasis Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome) untuk mengukur keterampilan berpikir peserta didik.
Naintyn Novitasari yang lahir di Lampung, 19 Desember 1992, mengangkat tema riset tentang pengembangan dan penerapan asesmen yang tidak berhenti pada benar-salah jawaban, tetapi menilai kualitas struktur berpikir mahasiswa atau siswa melalui level-level SOLO. Dalam kerangka ini, kemampuan berpikir dilihat bertahap—mulai dari respons yang masih dangkal hingga mampu mengaitkan konsep secara kompleks dan menghasilkan generalisasi.
Riset Naintyn menjadi relevan di tengah tuntutan pendidikan sains abad ke-21 yang menekankan keterampilan berpikir tingkat tinggi, penalaran ilmiah, serta kemampuan menjelaskan keterkaitan konsep secara runtut. Taksonomi SOLO dipakai sebagai “peta” untuk menilai kedalaman jawaban, sehingga dosen/guru dapat mengidentifikasi apakah peserta didik baru mengingat fakta, sudah mampu menghubungkan konsep, atau telah mencapai tingkat pemikiran abstrak yang lebih luas.
Tak hanya itu, kajian assessment berbasis SOLO yang dikembangkannya dinilai sejalan dengan arah penguatan Outcome-Based Education (OBE). Dalam OBE, pembelajaran dan evaluasi diarahkan pada capaian pembelajaran (learning outcomes) yang terukur. Model asesmen yang menilai struktur jawaban seperti SOLO dapat membantu kampus dan program studi memastikan bahwa capaian seperti critical thinking, scientific reasoning, dan problem solving benar-benar tercermin pada performa peserta didik—bukan sekadar pada nilai akhir.
Di sisi lain, riset ini juga membuka ruang integrasi dengan perkembangan deep learning dalam pendidikan. Pada ranah praktik pembelajaran, deep learning dapat dimaknai sebagai pembelajaran mendalam: mendorong peserta didik memahami konsep secara bermakna, menalar, dan mengaitkan pengetahuan lintas konteks. Sementara pada ranah teknologi, pendekatan deep learning (kecerdasan buatan) berpotensi dimanfaatkan untuk membantu menganalisis pola jawaban peserta didik, mengelompokkan level respons SOLO, hingga memetakan kesulitan konsep secara lebih cepat—tentu dengan tetap mengedepankan etika, validitas instrumen, dan kontrol akademik oleh pendidik.
Sidang promosi doktor Naintyn Novitasari yang dilaksanakan pada 05 Februari 2026 turut melibatkan dewan penguji yang terdiri dari para akademisi bidang pendidikan. Dewan Penguji adalah: Ketua: Prof. Dr. Sudarwan Danim, M.Pd. Anggota: Prof. Dr. Endang Widi Winarni, M.Pd., Dr. Fitri April Yanti, M.Pd., Dr. Nurul Astuti Yensi, M.Si., dan Prof. Dr. Leny Heliawati, M.Si.
Dengan capaian ini, Naintyn diharapkan dapat memperkuat inovasi asesmen di lingkungan pendidikan tinggi, khususnya pada pendidikan calon guru IPA. Pendekatan asesmen berbasis SOLO dinilai dapat membantu dosen/guru merancang rubrik penilaian yang lebih adil dan diagnostik—memberi umpan balik yang spesifik tentang “di level mana” pemahaman peserta didik berada, serta apa langkah perbaikan yang diperlukan.
Di luar capaian akademik, dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dari perjalanan studi. Naintyn diketahui didampingi suami yang juga akademisi di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, yang turut menguatkan proses panjang riset dan penyelesaian studi doktoralnya.
Riset tentang assessment for science berbasis Taksonomi SOLO ini menegaskan pesan penting: kualitas pendidikan sains tidak hanya ditentukan oleh materi dan metode, tetapi juga oleh cara kampus dan sekolah mengukur kedalaman berpikir. Ketika asesmen mampu “membaca” struktur penalaran, maka pembelajaran pun terdorong menjadi lebih bermakna—selaras dengan OBE dan arah pembelajaran mendalam yang kini semakin dibutuhkan.
